Badan Bongsor Anak Perempuan Bisa Saja Jadi Indikasi Pubertas Dini

Badan Bongsor Anak Perempuan Bisa Saja Jadi Indikasi Pubertas Dini

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Kamis, 18 Feb 2016 07:30 WIB
Badan Bongsor Anak Perempuan Bisa Saja Jadi Indikasi Pubertas Dini
Ilustrasi remaja putri (Foto: Hasan Alhabshy)
Jakarta - Tubuh anak perempuan yang bongsor bisa saja membuat orang tua bangga. Sebab, bisa dianggap tubuh anak bongsor karena zat gizinya tercukupi. Meskipun, bisa saja tubuh bongsor anak perempuan merupakan tanda ia mengalami pubertas dini.

dr Aditya Suryansyah SpA dari RSAB Harapan Kita mengatakan ia pernah mendapat pasien anak perempuan usia 6,5 tahun bertubuh bongsor. Awalnya, saat orang tua berkonsultasi pada dokter, dikatakan tumbuh kembang anaknya amat baik.

"Kemudian payudaranya sudah tumbuh, dikira kegemukan. Baru orang tuanya panik setelah anaknya haid. Setelah dicek, memang dia mengalami pubertas dini," kata dr Adit dalam diskusi media 'Pubertas' di RSAB Harapan Kita, Jakarta, Rabu (17/2/2016).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut dr Adit, pubertas dini bisa terjadi karena faktor genetik yakni kadar hormon yang tidak seimbang atau memang ada kondisi lain yang menyebabkan pubertas dini, misalnya terdapat tumor di rahim si anak.

"Kalau ada tumor di ovarium, kadar hormon si anak kan terpengaruh. Setelah kita angkat tumornya, ya kembali normal lagi. Tapi kalau memang penyebabnya hormonal, apalagi seperti kasus pubertas dini di usia 6,5 tahun tadi, kita hentikan hormonnya dengan disuntik hormon," kata dr Adit.

Baca juga: Saran Psikolog untuk Ortu Saat Hadapi Anak yang Terlalu Genit di Masa Puber 

Pada kasus bocah 6,5 tahun tadi, pasca menjalani terapi hormon, benar saja payudaranya bisa mengempis dan haidnya pun berhenti. Namun, dr Adit menekankan penting untuk mengetahui pemicu pubertas dini atau bahkan terlambat, harus dilihat apakah memang itu merupakan variasi genetik di keluarga atau memang ada kelainan.

Untuk kelainan hormon, menurut dr Adit bisa juga dipengaruhi obesitas. Sehingga, terapi anak yang dianggap pubertas terlalu dini atau terlalu telat, harus dilihat secara komprehensif dan dicari pencetusnya. Kemudian, tak semua masalah pubertas dini atau telat harus diatasi dengan terapi hormon. dr Adit menambahkan, selama 30 tahun terakhir, pubertas dini memang lebih banyak terjadi dibandingkan sebelumnya.

"Baiknya sih terapi hormon dilakukan di bawah usia 12 tahun ya karena tulangnya kan ibaratnya masih terbuka. Peluang untuk kembali normal bisa lebih besar. Sedangkan harga terapi hormon variatif ya," kata dr Adit.

Pada anak perempuan, tanda awal pubertas berupa tumbuhnya payudara umum terjadi di usia 8-13 tahun. Sedangkan pada anak lelaki, tanda awal pubertas berupa membesarnya testis terjadi di usia 13-14 tahun. Baru, 2-3 tahun kemudian terjadi tanda akhir pubertas yakni haid pada anak perempuan dan mimpi basah pada anak laki-laki. Meskipun, ada pula variasi waktu yang lebih cepat atau lebih lama dari umumnya, yang menurut dr Adit masih dikatakan normal.

Baca juga: Orientasi Seks Sesama Jenis Kelamin, Bisakah Dilihat Sejak Dini?  (rdn/vit)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads