"Dari usia dua sampai tiga tahun kita sudah bisa menanamkan nilai supaya dia jadi anak yang berani, termasuk berani mencoba sehingga dia nggak takutan mencoba segala sesuatu. Apalagi di umur 2-3 tahun kan itu masa anak bereksplorasi," tutur Ade saat berbincang dengan detikHealth baru-baru ini.
Dalam praktiknya, anak memang bisa melakukan kesalahan. Tapi, Ade mengingatkan pasti ada proses belajar di balik kesalahan itu. Sebut saja ketika anak terjatuh, ada nilai pembelajaran yang bisa didapat yakni di kesempatan berikutnya anak mesti lebih hati-hati lagi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Agar Lebih Pintar, Ajak Balita Anda Melakukan Eksplorasi
"Tapi ingat, orang tua pun harus mengontrol anak. Jadi anak tahu saat dia salah ada orang tua yang mengarahkan supaya dia benar sehingga dia merasa secure. Di semua aspek perkembangan anak pastikan orang tua terus mendampingi," lanjut Ade.
Selain dilatih berani mencoba segala sesuatu, anak juga perlu diajari nilai kemandirian. Cara mudah yang bisa dilakukan yakni dengan membiasakan dia membereskan mainan dan tempat tidurnya. Namun, dalam melakukannya, diperlukan peran orang tua untuk ikut membereskan mainan atau tempat tidur sebagai contoh untuk anak.
Sebab, ketika anak hanya disuruh saja tanpa diberi contoh sebelumnya, ia akan melakukannya dengan asal. Saat menginjak usia 4-5 tahun, anak akan mulai banyak bertanya. Untuk menyikapi fase ini, baiknya orang tua bisa memfasilitasi anak dan bukan malah memotong atau bahkan menyuruh anak diam.
Meskipun, di kesempatan tertentu misalnya saat orang lain berbicara atau beribadah pun anak perlu diberi tahu mana waktu yang tepat bagi mereka untuk berbicara.
Baca juga: Banyak Habiskan Waktu Bersama Kakek-Nenek, Anak Jadi Gampang Gemuk (rdn/vit)











































