Rabu, 04 Mei 2016 15:34 WIB

Saran Psikolog Agar Bullying di Sekolah Tak Terus-terusan Terulang

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Foto: thinkstock
Jakarta - Kasus bullying yang dilakukan para siswa tampaknya terus terulang. Untuk mencegah hal ini tidak terjadi lagi, psikolog memiliki saran bagi para orang tua juga pihak sekolah.

"Untuk sekolah penting mempublikasikan program anti-bullying dengan tegas dan jelas. Disosialisasikan dengan gamblang apa yang mesti dilakukan jika murid menjadi korban, penonton, atau cenderung menjadi pelakunya," tutur psikolog anak dan keluarga Anna Surti Ariani, MPsi saat berbincang dengan detikHealth.

Wanita yang akrab disapa Nina ini menambahkan, harus dijelaskan pula apa sanksi yang bisa diterima siswa ketika ia menjadi penonton tindak bullying tapi tidak melaporkan, juga sanksi bagi si pelaku bullying.

Kemudian, bisa dibentuk situasi di mana para murid bisa saling menjadi sahabat. Dengan begitu, ketika satu murid memiliki kekesalan terhadap murid lain, maka anak tidak dibiarkan bertindak sendiri. Para guru pun bisa menjadi sahabat bagi murid sehingga masalah yang dialami si murid dengan temannya di sekolah bisa dibicarakan dan dicari jalan keluarnya dengan bantuan pihak sekolah

Baca juga: Gara-gara Di-bully di Sekolah, Remaja Ini Bunuh Diri

Selain sekolah, keluarga terutama orang tua juga memiliki peran penting dalam mencegah bullying di sekolah. Caranya, orang tua bisa membangun komunikasi yang dekat dan sebaik mungkin dengan anak. Tujuannya, supaya anak bisa terbuka dengan orang tuanya.

"Sehingga anak bisa menceritakan semua yang dia alami di sekolah. Kalau dia kesal sama temannya, tensi si anak bisa diturunkan sehingga kemungkinan dia melampiaskan kekesalannya dengan membully bisa dihindari," kata Nina.

Begitupun jika si anak menjadi korban bullying. Dikatakan Nina, dengan anak menceritakan apa yang ia alami di sekolah secara gamblang pada orang tuanya, maka korban bullying ini bisa mendapat penanganan lebih cepat. Namun, tetap diperlukan kepekaan orang tua ataupun guru ketika ada perubahan atau hal-hal tak biasa yang terjadi pada anak sehingga dapat diketahui lebih lanjut apa masalah yang mereka alami.

Baca juga: Tepis Bullying, Remaja Tanpa Anus dan Rahim Ini Bikin Pidato Emosional

(rdn/vit)