Sebuah studi melihat rekaman data terkait pemberian makan 2.564 anak di Inggris. Data tersebut mengungkap jenis makanan yang dimakan anak, seberapa sering mereka makan serta porsinya. Selanjutnya peneliti menggunakan data tersebut untuk membandingkannya dengan kebiasaan makan anak-anak yang memiliki kelebihan berat badan.
Dari situ diketahui anak-anak yang kelebihan berat badan mengonsumsi makanan lebih banyak daripada teman-temannya yang tidak kegemukan. Perbandingan kalorinya 141 banding 130. Demikian dikutip dari BBC, Selasa (7/6/2016).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu peneliti, Hayley Syrad, dari University College, London, mengatakan penelitian menunjukkan frekuensi makan tidak memiliki dampak pada berat badan. Sebaliknya porsi makan banyaklah yang membuat anak-anak bertambah berat badannya.
Untuk setiap tambahan 24 kalori yang dikonsumsi selama makan, ada peningkatan risiko kelebihan berat badan ataupun obesitas sebanyak 9 persen. Yang jadi perhatian peneliti, bayi yang terbiasa makan banyak dan badannya besar kemungkinan akan tumbuh dengan badan yang besar. Pada saat dewasa pun bisa jadi sosok dengan badan yang besar.
Public Health England menyarankan para orang tua memulai memberi makan anaknya dengan porsi kecil. Selanjutnya biarkan anak meminta makanan lagi jika masih lapar. Ini jauh lebih bijaksana ketimbang langsung memberi anak makan dengan porsi yang banyak sehingga mereka 'tertekan' untuk menghabiskannya.
Disarankan pula memberikan piring kecil ketimbang piring besar untuk menyajikan makanan anak. Sebab piring besar mendorong anak-anak untuk makan dengan porsi yang besar pula.
Baca juga: Ini Akibatnya Jika Orang Tua Sering Memaksa Anak Agar Mau Makan
(ajg/ajg)











































