Namun, psikolog perkembangan di University of Oregon, Marjorie Taylor mengatakan orang tua tidak perlu khawatir akan hal itu. Sebab, memiliki teman khayalan menjadi hal yang lumrah bagi anak-anak. Taylor juga menyebut ada beberapa keuntungan ketika anak memiliki teman khayalan.
"Anak yang punya teman khayalan cenderung tidak terlalu pemalu. Mereka juga bisa lebih fokus dan perhatian pada suatu hal, memiliki kosakata lebih banyak, dan mampu melihat sesuatu dari perspektif orang lain. Teman khayalan juga membantu anak mengembangkan keterampilan dalam menyelesaikan konflik," tutur Taylor.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikutip dari Essential Kids, Taylor menekankan ketika anak memberi tahu orang tua mereka memiliki teman khayalan, usahakan jangan tertawa atau memberikan pertanyaan yang mengarahkan karena Anda tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Selama 30 tahun mempelajari soal teman khayalan, Taylor menuturkan berbagai teman khayalan yang dimiliki anak di antaranya ada yang dapat terbang, tinggal di bulan, atau bahkan bisa mengeluarkan api.
Baca juga: Ortu Berteman dengan Anak di Sosmed Bisa Bantu Cegah Bullying
Lantas, mengapa anak punya teman khayalan? Menurut psikolog perkembangan di Wellesley College, Tracy Gleason, alasannya amat banyak dan beragam. Namun, Gleason berpendapat anak-anak bisa menciptakan teman khayalan karena soosk itu mereka anggap cukup menyenangkan. Apalagi, anak-anak memang senang berfantasi dan berimajinasi.
"Teman khayalan menyediakan ruang bagi anak untuk berpartisipasi dalam percakapan di mana mereka bak seorang ahli. Studi 2013 dalam jurnal Childhood juga menemukan bahwa teman khayalan bisa mengatasi kesepian dan rasa bosan anak. Selain itu, interaksi dengan teman khayalan bisa memberi dukungan ketika anak ada masalah," kata Gleason.
Hanya saja, umumnya bagi anak usia 5-11 tahun, mereka akan menyembunyikan teman khayalannya karena takut diejek oleh temannya atau dimarahi orang tuanya. Lalu, kapan orang tua perlu khawatir pada teman khayalan sang buah hati?
"Ketika anak sepertinya tidak memahami bahwa teman khayalan itu tidak nyata. Jika itu terjadi, buat anak lebih sibuk dengan kegiatan yang nyata dan berkonsultasikan ke psikolog jika diperlukan. Meski setidaknya sekali anak bisa menyalahkan teman khayalannya atas kekacauan yang dibuat, tegaskan pada mereka bahwa teman khayalan tidak bisa menyelesaikan kekacauan tersebut dan itu sebabnya anaklah yang harus bertanggung jawab atas kekacauan itu," papar Gleason.
Baca juga: Jangan Salah, Teman Khayalan Berkaitan dengan Kreativitas si Kecil Lho (rdn/vit)











































