Perhatikan Hal Ini Jika Ortu Hendak Izinkan Anak Pergi ke Luar Kota Sendiri

Perhatikan Hal Ini Jika Ortu Hendak Izinkan Anak Pergi ke Luar Kota Sendiri

Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Senin, 07 Nov 2016 11:02 WIB
Perhatikan Hal Ini Jika Ortu Hendak Izinkan Anak Pergi ke Luar Kota Sendiri
Foto: thinkstock
Jakarta - Orang tua hendak membolehkan anak pergi sendiri ke luar kota? Boleh-boleh saja. Tapi, ada beberapa hal yang mesti Ayah dan Ibu perhatikan terkait kesiapan dan keamanan si anak.

Pertama, orang tua harus tahu apa tujuan anak pergi hingga ia harus dibiarkan pergi sendiri. Apakah untuk study tour, kegiatan budaya, pramuka, atau sekadar jalan-jalan bersama teman. Demikian disampaikan psikolog anak dari Tiga Generasi, Anastasia Satriyo MPsi, Psikolog.

"Jadi nggak bisa kita patok di usia sekian anak sudah bisa pergi sendiri. Kalau pergi karena ada acara dari sekolah atau bareng rombongan relatif lebih aman ya, kan ada yang mengatur dan bertanggung jawab," tutur Anas ketika berbincang dengan detikHealth.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketika pergi bersama rombongan pun dikatakan Anas transisi yang dialami anak dari biasa pergi dengan adanya dampingan menjadi pergi sendirian lebih smooth. Sebab, ketika pergi sendirian, banyak hal tak terduga yang terjadi dan anak berhadapan dengan lingkungan yang tidak familiar dengannya.

Lalu, perhatikan pula jarak tempuh perjalanan. Menurut Anas, jenis alat transportasi yang digunakan tidak terlalu masalah. Tetapi berapa lama anak menempuh perjalanan yang menunjukkan berapa lama dia sendiri tanpa pengawasan orang tua, itu hal yang penting.

"Misal anak SMP kelas 1, dan baru pertama kali pergi sendiri, coba yang jarak tempuhnya 2 sampai 3 jam entah naik pesawat, bis, atau kereta. Kalau sampai setengah hari lebih sepertinya deg-degan ya kita (orang tua)-nya," tutur Anas.

Sebelum membiarkan anak pergi sendirian, misalnya pergi ke rumah neneknya di luar kota, patut dilihat juga kesiapan anak. Apa saja tandanya? Menurut Anas, anak sudah terlihat matang yang merujuk pada anak yang sudah bisa mengurus dirinya sendiri.

Baca juga: Si Kecil Ogah 'Salim' dengan Orang Lain, Perlukah Dipaksa?

"Paling nggak untuk membereskan barangnya sendiri. Dan ini bisa dilatih ketika anak pergi bareng orang tua. Dia dibiasakan menyiapkan barang-barangnya sendiri pas mudik misalnya," kata pemilik akun twitter @anasbubu ini.

Kemudian, lihat kemampuan anak mengatur diri dan membuat keputusan. Karena, ada pula anak yang masih impulsif di mana sedikit-sedikit ia masih harus bertanya pada orang tuanya. Selain itu, sense of security atau kemampuan anak melihat bahaya juga patut diperhitungkan.

Ketika mampu melihat bahaya, anak juga mampu mengambil tindakan sebagai antisipasi terhadap bahaya yang ada. Selama anak pergi, orang tua bisa saja memberinya alat komunikasi supaya mereka lebih mudah dipantau. Tapi, Anas mengingatkan alat komunikasi misalnya ponsel bisa diberikan ketika memang anak sudah bisa bertanggung jawab terhadap barang yang diberi.

"Intinya saat anak pergi sendiri, banyak hal yang nggak bisa orang tua kontrol. Sehingga, penting diperhatikan sejauh mana orang tua bisa percaya dan anak memang kelihatannya bisa kita percaya," pungkas Anas.

Baca juga: Kenali Beda Balita yang Ogah atau Memang Belum Mampu Diajari Mengenal Huruf


(rdn/vit)

Berita Terkait