Minggu, 13 Nov 2016 17:06 WIB

Riset: Ini Sebabnya Remaja Perempuan Lebih 'Menderita' karena Trauma

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Foto: thinkstock
Jakarta - Siapapun bisa terserang trauma, apalagi pada remaja yang rata-rata masih labil. Namun otak remaja laki-laki dan perempuan memberikan respons yang berbeda ketika diserang trauma lho.

Peneliti dari Stanford University School of Medicine membuktikannya dengan melakukan pemindaian otak pada 59 partisipan dengan rentang usia 9-17 tahun. Peneliti membagi mereka ke dalam dua kelompok.

Kelompok pertama terdiri atas 14 remaja perempuan dan 16 remaja laki-laki yang pernah mengalami sedikitnya satu kali stres berat atau trauma. Pembandingnya, 15 remaja perempuan dan 14 remaja laki-laki yang belum pernah mengalami trauma sama sekali.

Dari hasil studi ini terbukti, salah satu bagian dari insula milik para remaja yang pernah mengalami trauma, yaitu anterior circular sulcus mengalami perubahan ukuran dan volume. Bagian otak ini berperan penting dalam mengatur emosi dan empati.

Bedanya, remaja perempuan memiliki insula dengan ukuran yang lebih kecil ketimbang insula pada otak remaja laki-laki. Perubahan ukuran dan volume otak ini sendiri terjadi karena paparan stres jangka panjang.

"Ketika diserang PTSD, otak remaja perempuan sebenarnya mengalami penuaan lebih cepat sehingga dampaknya akan lebih buruk bila dibandingkan trauma pada remaja laki-laki," terang peneliti Dr Megan Klabunde seperti dilaporkan BBC.

Itulah sebabnya remaja perempuan lebih rentan mengalami PTSD daripada remaja laki-laki.

Baca juga: Hai Ayah dan Ibu, Yuk Kenali Tanda-tanda Anak sedang Stres

Di sisi lain temuan ini diharapkan dapat memberikan panduan tentang bagaimana memperlakukan atau mengobati PTSD pada remaja.

"Karena gejala trauma yang diperlihatkan berbeda-beda sehingga mereka sebaiknya ditangani dengan pendekatan yang berbeda," lanjut Klabunde.

Lagipula, lanjut Klabunde, ada sejumlah studi yang mengungkapkan bahwa tingginya tingkat stres seseorang dapat memicu pubertas dini, utamanya remaja perempuan. Dengan pendekatan yang berbeda, diharapkan pubertas dini juga dapat dicegah.

Perlu diketahui bahwa sejumlah gejala PTSD yang lazim ditemui antara lain:
- munculnya kilas balik dari peristiwa dan mimpi buruk
- enggan mengingat kejadian kembali
- mudah cemas dan sulit rileks
- susah tidur
- gangguan makan

Tak jadi soal bila gejala ini hanya berlangsung beberapa pekan saja. Namun perlu diwaspadai jika gejalanya terus berlangsung hingga sebulan lebih dan baiknya segera dikonsultasikan ke dokter.

Baca juga: Saat Remaja Stres, Begini Saran untuk Mengatasinya (lll/vit)