Bela diri menjadi pilihan orang tua agar anak juga dapat melindungi dirinya sendiri. Laporan terbaru dari American Academy of Pediatrics mengakui beragam jenis bela diri yang dipelajari anak-anak, seperti karate, taekwondo dan judo memang dapat memberikan sejumlah manfaat bagi mereka, mulai dari menjaga kebugaran, meningkatkan skill motorik serta melatih ketahanan emosional.
Kendati demikian, orang tua juga harus tahu bahwa kegiatan ini pun berisiko. Secara umum, cedera yang bisa ditemukan pada mereka adalah luka memar dan keseleo.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Koutures mencontohkan seni bela diri campuran (mixed martial arts atau MMA) yang memperbolehkan segala jenis serangan, baik tendangan maupun pukulan. Anak yang berlatih bela diri ini berisiko mengalami gegar otak, tercekik, kerusakan tulang belakang, pecahnya pembuluh darah, maupun cedera di kepala dan leher.
"Apalagi jika mereka diminta untuk sparring atau duel satu sama lain," lanjutnya.
Adapun gerakan-gerakan yang sering dipakai saat sparring dan memicu risiko pada pemainnya antara lain tendangan ke kepala, kepala berulang kali terdorong ke lantai atau gerakan memiting.
Jumlah cederanya bervariasi, yaitu mencapai 41-133 kali untuk tiap 1.000 kali gerakan bela diri, bergantung pada jenis bela dirinya. "Helm dan penutup wajah maupun mulut juga tidak terbukti dapat melindungi mereka," lanjutnya.
Baca juga: Tak Hati-hati, Main di Playground Tingkatkan Risiko Trauma Otak pada Anak
Dengan adanya laporan ini, peneliti bukannya melarang orang tua untuk membiarkan anaknya berlatih bela diri. Mereka hanya berharap orang tua bijak dalam memilih jenis bela diri yang tepat untuk anak mereka.
Kalaupun tetap diberi pelatihan bela diri, usahakan agar anak tidak terlibat dalam duel atau mengikuti kejuaraan sampai fisiknya sudah lebih kuat dan emosi mereka sudah lebih stabil.
Peneliti juga meminta agar salah satu ketentuan dalam bela diri taekwondo dihapuskan, di mana pemain memperoleh poin ekstra bila berhasil menendang kepala lawan karena dapat meningkatkan risiko gegar otak.
Terlepas dari itu, peneliti tetap khawatir pada anak-anak hanya karena mereka suka atau kerap menonton tayangan MMA di televisi. Sebab hanya dengan menonton saja, hal ini akan mendorong mereka untuk menirukan gerakannya lalu memicu risiko cedera pada diri mereka.
Baca juga: Terlalu Sering Menyundul Bola Bikin Anak Lebih Berisiko Alami Gegar Otak (mrs/vit)











































