Kamis, 23 Feb 2017 13:03 WIB

Benarkah Ajari Bahasa Asing Sejak Dini Bikin Anak Terlambat Bicara?

Ajeng Anastasia Kinanti - detikHealth
Foto: Thinkstock
Jakarta - Mengajarkan anak dengan bahasa asing disebut-sebut memberikan banyak manfaat. Namun masih ada hal yang kerap membuat orang tua ragu: anak menjadi terlambat bicara alias speech delay.

Sebagian orang tua juga beranggapan mengajari anak dengan bahasa asing malah akan membuatnya kebingungan. Terlebih jika orang tua juga jarang menggunakan bahasa asing tersebut.

Menanggapi hal ini, psikolog anak dan keluarga Roslina Verauli menjelaskan bahwa itu hanyalah mitos. Menurut Vera, ketika anak dipaparkan dengan lebih dari satu bahasa maka akan terjadi peleburan dari bahasa-bahasa tersebut. Kondisi ini disebut sebagai code mixing.

Ia menjelaskan berdasarkan teori perkembangan bahasa dari profesor linguistik Massachusetts Institute of Technology (MIT), Naom Chomsky, dalam otak manusia sudah lebih dulu ada program 'language acquisition device' atau LAD. Program ini memungkinkan anak untuk menganalisis dan memahami aturan dasar bahasa yang mereka dengar.

Baca juga: Kapan Sebaiknya Anak Mulai Diajari Bahasa Asing? Ini Kata Pakar

Maka dari itu, berdasarkan perkembangan psikologi, anak-anak bahkan sejak bayi, sudah memiliki kapasitas bawaan untuk menguasai bahasa. Bayi yang dikenalkan dengan bahasa asing atau bilingual pun diyakini tidak akan mengalami keterlambatan bicara.

"Dengan software bahasa alias LAD ini, anak jadi mampu menangkap bahasa ibu. Lalu ketika dikenalkan dengan bahasa lain, ia akan menganalisis meskipun belum bisa bicara. Bilingual tidak akan membuat anak terlambat bicara," ungkap Vera dalam talkshow 'Multilingual Sejak Dini, Kenapa Tidak?' yang diadakan di EF Center, FX Jakarta, Rabu (22/2/2017).

Secara teori, terdapat beberapa tahapan dalam perkembangan bahasa anak, misalnya pada usia 12-18 bulan, anak memasuki tahap di mana ia mulai mengucapkan kata pertamanya, lengkap dengan gerakan dan isyarat tubuh. Untuk mencapai masing-masing tahap tersebut anak perlu menguasai tujuh modalitas terlebih dahulu, beberapa di antaranya yakni memerhatikan, mendengar, serta mau menggerakkan otot rahang.

"Jadi kalau ada anak misalnya ada masalah pada gangguan fokus atau malas menggerakan mulut yang ditandai dengan malas mengunyah makanan, biasanya akan sulit menguasai bahasa. Masalahnya bukan karena diajari bahasa asing, tapi masalah atensi dan pergerakan otot, ini biologis. Jangan disalahartikan karena diajari bahasa asing ya, speech delay itu faktor penyebabnya sangat banyak," terang psikolog yang praktik di RS Pondok Indah tersebut.

Ia juga menuturkan, jika kemampuan verbal dan bahasa anak mau dikuasai, maka orang tua perlu memerhatikan faktor-faktor pendukung tahapan bicara anak terlebih dahulu. Jika tahapan dan modalitas tersebut, maka bahasa ibu maupun bahasa asing pun akan lebih mudah dikuasai.

Baca juga: Beragam Manfaat Ajarkan Bahasa Asing Pada Anak Sejak Dini

(ajg/up)