Namun ada kerugian yang didapat jika si anak bisa sampai hafal nama-nama merek makanan atau minuman ringan dari tayangan televisi. Sebuah penelitian di AS menyebut, anak yang mengenali merek produk seperti soda, permen, biskuit, kripik dan makanan cepat saji berpeluang lebih tinggi untuk mengalami obesitas.
Bahkan menurut peneliti dari University of Michigan tersebut, kecenderungan ini tetap ada meski si anak tidak benar-benar ingat nama merek produk tersebut dengan tepat. Mengenali logonya saja cukup.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Punya TV di Kamar, Anak Berisiko Jadi Obesitas
Caranya dengan memberi anak-anak ini tiga jenis makanan lalu meminta mereka mencocokkannya dengan logo produk tertentu. Rata-rata jawaban yang diberikan sudah tepat, bahkan untuk produk makanan yang tidak begitu populer di kalangan anak-anak.
Namun yang menjadi sorotan adalah anak dengan kelebihan berat badan dapat mengenali 10 jenis produk lebih banyak ketimbang anak dengan bobot yang sehat.
Sebab ketika anak mengenali produk tersebut, mereka akan cenderung memilihnya sebagai cemilan atau setidaknya mencobanya, yang kemudian membentuk pola makan tak sehat yang bisa berujung pada obesitas.
Baca juga: Ssst! Ini Dia Camilan Sehat untuk Anak di Bawah Usia 2 Tahun
dr Diana Sunardi, MGizi, SpGK dari Departemen Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-RS Cipto Mangunkusumo mengatakan, sebenarnya anak boleh-boleh saja ngemil, tetapi jangan sampai makanan pokoknya menjadi terabaikan.
Bagaimana caranya agar keduanya seimbang? "Kasih aturan misal, boleh ngemil kalau anak udah selesai sarapan. Jadi abis makan boleh ngemil sesuatu yang dia suka. Tapi ingat tetap harus dipilihkan ya camilannya," kata dr Diana kepada detikHealth beberapa waktu lalu.
Cemilannya pun dipilihkan yang sehat, seperti buah-buahan yang bisa dikemas dalam bentuk jus, es krim atau puding, terutama yang dibuat sendiri oleh orang tua.
Selain itu disarankan agar anak, utamanya yang masih di bawah usia 2 tahun, untuk tidak menonton televisi lebih dari dua jam dalam sehari.
Baca juga: Ketika si Kecil Lebih Doyan Ngemil Keripik Ketimbang Makan Nasi (lll/up)











































