Penelitian dari Kementrian Sosial RI, Yayasan Kita dan Buah Hati, dan Semai 2045 menyebutkan bahwa rata-rata anak Indonesia menghabiskan 9 jam per harinya menggunakan gadget. Hal ini makin diperkuat oleh penelitian Gentile yang menyebutkan, 1 dari 11 anak usia antara 8-18 tahun kecanduan teknologi gadget.
Menyimak efek kecanduan yang dialami sebagian besar anak, berapa usia ideal mereka untuk memiliki perangkatnya sendiri? "Pertanyaan sebenarnya adalah, 'Untuk apa telepon itu?', Tidak pada usia berapa anak itu menggunakannya," kata Dr. Pamela Rutledge, direktur Pusat Penelitian Psikologi Media, seperti yang dilansir tomsguide.com, Kamis (8/6/2017).
Baca Juga: Bagaimana Mengajarkan Perilaku Positif di Medsos ke Anak?
Dr. Rutlegde pun memberi contoh anak yang sudah diperbolehkan memiliki gadgetnya sendiri. "Jika anak aktif berolahraga, dan di sana banyak sekali logistik serta emergency, maka itu adalah alasan yang dapat diterima."
Di samping itu, tentu saja anak akan menggunakan perangkat yang ia punya untuk aktivitas sosial. Rutledge menyebutkan sekiranya pada kelas 4 atau 5 SD, anak akan mulai meminta gadget punyanya sendiri.
Di sinilah peran orang tua dalam mengawasi anak sangat diperlukan. Anda bisa mulai dengan mengaktifkan sistem parental control di perangkat anak agar ia bisa berseluncur dengan aman di dunia maya. Selain itu, pendekatan secara personal juga dibutuhkan oranng tua. Apabila anak menemukan hal-hal yang ia kurang pahami ia bisa bertanya pada Anda dibandingkan mencari tahunya sendiri.
Baca Juga: Kata Psikolog Soal Anggapan 'Namanya Anak Kecil, Nggak Bisa Bohong'
Tetapi, penelitian mengenai pengawasan orang tua terhadap anak yang dilakukan oleh The American Academy of Pediatrics dan The Canadian Society of Pediatrics pun menampilkan hasil yang cukup mencemaskan. Dijelaskan, sekitar 60 % orang tua kurang mengawasi anaknya yang bermain smartphone, tablet atau video game. Sementara 75% orang tua membiarkan anak-anaknya bermain gadget di kamar tidur. (up/up)