"Setahu kami, pengumpulan nama bayi untuk riset ini masih dilakukan. Tentu kami akan mempertanyakan terus urgensi penelitian ini," ujar Ketua Umum Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI), Mia Sutanto, kepada detikHealth di FX Lifestyle X'nter Mall, Jl Sudirman, Jakarta, dan ditulis pada Senin (24/12/2012).
Menurut Mia, bayi seharusnya tidak serta merta menjadi objek uji. Pengujian sesuatu pada bayi seharusnya diujikan lebih dulu kepada binatang, lalu kepada manusia dewasa. "Jangan serta merta ke bayinya," ucapnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Unsur urgensinya apa? Apakah akan menyelamatkan nyawa bayi, atau menjadikan bayi super atau mengungguli bayi yang diberi ASI. Kalau cuma untuk tahu apa akibat susu formula ke saluran cerna, sudah pernah dilakukan dan sudah banyak penelitiannya," tutur Mia.
Seperti diberitakan sebelumnya, Daffodil Study merupakan penelitian mengenai susu formula yang memiliki judul lengkap 'Pengaruh Susu Formula yang Mengandung Lemak Susu Sapi yang Diperkaya dengan Lemak Campuran dan Tambahan Fosfolipid Terhadap Durasi dan Gejala Infeksi Saluran Pencernaan dan Pernapasan pada Bayi'.
Kabar yang beredar, Daffodil Study melibatkan bayi-bayi dari 4 kecamatan di DKI Jakarta yang berusia kurang dari 4 bulan. Kriteria lainnya adalah bayi-bayi tersebut tidak mendapatkan ASI dari ibunya karena berbagai sebab.
Meski begitu, penelitian yang rencananya akan dilakukan awal tahun depan ini mendapat kecaman keras dari para konselor ASI (Air Susu Ibu) karena melibatkan bayi yang seharusnya mendapatkan ASI Eksklusif dari ibunya.
(/)











































