Bayi Tabung Mahal? Dua Ilmuwan Ini Bisa Bikin yang Murah Meriah Lho

Bayi Tabung Mahal? Dua Ilmuwan Ini Bisa Bikin yang Murah Meriah Lho

- detikHealth
Senin, 30 Jun 2014 09:17 WIB
Bayi Tabung Mahal? Dua Ilmuwan Ini Bisa Bikin yang Murah Meriah Lho
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Tak semua pasangan sanggup menjalani prosedur bayi tabung karena biayanya memang cukup menguras kantong, tak peduli si pasangan kebelet setengah mati ingin punya anak. Beruntung seorang ilmuwan temukan solusi murah-meriah.

Menurut ilmuwan bernama Dr Willem Ombelet tersebut, yang bikin bayi tabung mahal sebenarnya adalah biaya pemakaian lab canggih tempat terjadinya pembuahan sel telur. Padahal sebenarnya tak perlu memakai lab pun bisa.

Pakar obstetri yang pernah bertugas di Afrika Selatan di tahun 1980-an mengaku melihat banyak kasus wanita Afsel yang bunuh diri dan stres karena tak kunjung dikaruniai keturunan, namun tak punya biaya untuk bayi tabung.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dr Ombelet mau tak mau tergerak hatinya. Sejak itu, ia pun tak henti-hentinya berkampanye untuk meningkatkan akses atau membantu pasangan-pasangan yang mendambakan anak tapi mengalami gangguan kemandulan, terutama di negara-negara berkembang, dengan mendirikan organisasi non-profit yang diberi nama The Walking Egg.

Uniknya, dokter asal Belgia ini juga menemukan cara untuk membuat prosedur bayi tabung menjadi sangat simpel. Trik ini didasarkan pada teknik penyimpanan embrio bikinan pakar embriologi dari University of Colorado, Prof Jonathan Van Blerkom di tahun 2008.

Teknik yang dikembangkan Van Blerkom di tahun 1980-an itu dipakai untuk memindahkan embrio sapi ke berbagai daerah di Nebraska. Agar bisa dibawa dalam perjalanan panjang, ia menciptakan sebuah wadah khusus yang di dalamnya 'mengandung' CO2 ramuan Van Blerkom sendiri.

CO2 itu terbuat dari baking soda dan asam sitrat dalam takaran tertentu yang dicampur, lalu ditambahkan secara periodik ke dalam larutan tempat embrio-embrio itu tersimpan agar konsentrasi CO2 dan tingkat alkalinitas larutannya tetap optimal.

Bersama Dr Ombelet, teknik itu dikembangkan agar dapat digunakan untuk prosedur bayi tabung pada manusia. Pertama, Dr Ombelet menyiapkan asam sitrat dan sodium karbonat dengan jumlah tertentu lalu mencampurkannya dalam sebuah tabung reaksi. Muncullah gelembung-gelembung CO2, yang kemudian 'disalurkan' ke tabung kedua yang berisi medium kultur untuk embrio.

Untuk mencari suhu yang tepat agar embrio sukses dibuahi dan berkembang, Van Blerkom juga telah mencoba berbagai metode.

"Saya coba masukkan tabungnya ke termos ternyata berfungsi. Begitu juga ketika saya masukkan ke wadah dari aluminium pemanas. Toh embrio-embrio itu tak peduli apakah mereka ditaruh di inkubator berdinding tiga lapis yang mahal atau sekadar termos," tandas Prof Van Blerkom. Yang jelas kondisi terbaik untuk sperma agar dapat sukses membuahi sel telur di luar tubuh adalah di ruangan dengan sedikit basa dan suhu sekitar 37 derajat Celcius.

Setelah atmosfernya stabil, barulah sel sperma dan sel telurnya disuntikkan ke dalam tabung reaksi kedua tadi. Keesokan harinya, tabung ini diamati di bawah mikroskop agar dapat diketahui apakah pembuahan benar-benar terjadi atau tidak. Bila embrio terbentuk, enam hari kemudian embrio ini sudah bisa dipindahkan ke rahim sang ibu.

Dan terbukti cara ini sangat efisien. Pasalnya kedua ilmuwan hanya membutuhkan wadah sebesar kotak sepatu untuk melakoni seluruh prosedur yang dibutuhkan dalam IVF. Percobaan pun sudah dilangsungkan di tahun 2012, tepatnya di Genk, Belgia dan 'menghasilkan' 17 bayi sehat dari ibu-ibu yang sebelumnya divonis mandul.

"Kami telah membuktikan bila kualitas sistem embrio kami sama bagusnya dengan IVF biasa," tegas Dr Ombelet seperti dikutip dari BBC, Senin (30/6/2014).

Karena keberhasilan itu, percobaan berikutnya rencananya akan digelar di Afrika Selatan dan Inggris, setidaknya mulai tahun ini. Untuk sementara, prosedur sederhana ini hanya menghabiskan biaya 159 poundsterling (sekitar Rp 3,2 juta). Namun Dr Ombelet menekankan harga ini masih bisa ditekan hingga 70-80 persen, tergantung negara yang dituju.

"Setidaknya dengan skema pengobatan yang rendah dosis semacam ini kami berharap dapat melakukan prosedur bayi tabung di negara-negara berkembang dengan biaya tak lebih dari 399 poundsterling (lebih dari Rp 8 juta)," imbuh Dr Ombelet. The Walking Egg juga menyediakan program kesuburan khusus yang jauh lebih murah dari itu, dengan tidak membebankan biaya pengobatan dan staf kepada pasien.

(lil/up)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads