Bayi Ini Berkepala Lonjong karena Mengidap Penyakit Berbahaya

Bayi Ini Berkepala Lonjong karena Mengidap Penyakit Berbahaya

Nita Sari - detikHealth
Senin, 29 Jun 2015 07:38 WIB
Bayi Ini Berkepala Lonjong karena Mengidap Penyakit Berbahaya
Houston - Matthew Boler adalah bayi menggemaskan dengan mata yang cerah, pipi chubby, namun memiliki kepala berbentuk sempit dan lonjong. Saat pemeriksaan kesehatan, dokter menemukan bahwa bayi tersebut memiliki kondisi berbahaya yang disebut craniosynostosis.

Megan Boler, ibu Matthew awalnya berpikir tidak ada yang salah dengan kepala bayinya. Matthew mungkin hanya berbeda dengan tren di keluarga yang memiliki kepala bulat besar. "Kami berpikir mungkin Matthew hanya memiliki bentuk kepala yang tidak biasa. Kami tidak memikirkan bahwa itu berhubungan dengan hal yang lain," ucap Megan seperti dikutip dari ABC News pada Senin (29/6/2015).

Saat melakukan pemeriksaan kesehatan dua bulan Matthew, dokter penyakit anak melihat kondisi Matthew dan tidak menemukan bagian lunak kepalanya. Dokter berkata ada kemungkinan Matthew memiliki kondisi berbahaya yang disebut craniosynostosis. "Jangan menganggap ini hal yang ringan. Saya ingin Anda mengunjungi ahli bedah saraf di Texas Children's Hospital," ucap dokter pada Megan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Baca juga: Kisah Kirana, Bayi Cantik Berdagu Kecil dengan Sederet Penyakit Langka

Megan pun membawa bayinya ke rumah sakit tersebut. Saat diperiksa kembali, dokter menemukan bahwa Matthew memiliki tipe craniosynostosis yang disebut sagittal synotosis yakni kondisi tengkorak yang telah menyatu dengan bagian belakang kepala. Akibatnya otak Matthew tidak memiliki ruang untuk tumbuh dan membuat bentuk kepalanya 'aneh'. "Tidak ada obat untuk memutuskan tulang, penanganannya adalah operasi dan kami harus memotong tulang yang 'jelek'," ucap dr Sandi Lam, direktur Craniofacial Surgery di Texas Children's Hospital.

dr Sandi mengatakan bahwa usia muda Matthew menyelamatkannya karena dokter dapat melakukan operasi dengan potongan kecil dan otaknya akan membentuk kembali tulang tengkorak setelah operasi. "Tengkoraknya sangat tipis. Kami dapat menggunakan berbagai jenis alat dan endoskopi untuk melihat semuanya. Karena pertumbuhan masih terjadi, otaknya akan membantu membentuk kepala bayi," ungkap dr Sandi.

Sebagai tambahan, dr Sandi mengatakan penting untuk mengetahui kondisi sejak awal karena 10 persen anak-anak dengan kondisi tersebut berakir dengan tekanan tinggi di otak yang bisa berbahaya. Pada kondisi langka bahkan dapat menunda pertumbuhan dan perkembangan anak karena otak tidak tumbuh dengan baik.

Matthew menjalani operasi pada usia 10 pekan dan dalam 72 jam dapat kembali tersenyum. Dokter memperkirakan Matthew harus menggunakan helm khusus selama tiga hingga 12 bulan namun syukurnya Matthew hanya menggunakannya selama empat bulan.

Megan mengakui bahwa 72 jam setelah operasi adalah saat-saat yang menegangkan. Kondisi Matthew sekarang baik-baik saja dan tidak terlihat ada yang salah dengan kepalanya. Megan berharap bahwa kisah yang ia alami bisa membantu orang tua lainnya untuk menangkap tanda craniosynostosis sedini mungkin.

Baca juga: Sang Anak Idap Atresia Billier, Ayah Ini Donorkan Sebagian Hatinya

(up/vit)

Berita Terkait