Tatapan Bayi Baru Lahir Bisa Prediksi Tingkah Laku di Masa Kanak-kanak

Tatapan Bayi Baru Lahir Bisa Prediksi Tingkah Laku di Masa Kanak-kanak

Nita Sari, - detikHealth
Senin, 29 Jun 2015 14:46 WIB
Tatapan Bayi Baru Lahir Bisa Prediksi Tingkah Laku di Masa Kanak-kanak
Foto: Ilustrasi/Thinkstock
London - Tatapan bayi baru lahir bisa memberi petunjuk mengenai tingkah lakunya di beberapa tahun mendatang. Penelitian terbaru menunjukkan bayi baru lahir yang mempunyai tatapan lebih sedikit cenderung hiperaktif di masa kanak-kanaknya.

Peneliti melakukan pengamatan terhadap 80 bayi baru lahir yang berusia 1 hingga 4 hari dan mengukur seberapa lama bayi tersebut fokus tatapannya pada gambar yang ditunjukkan pada mereka. Kemudian, ketika bayi tersebut telah berusia 3 hingga 10 tahun, orang tuanya diminta untuk mengisi kuesioner mengenai temperamen dan tingkah laku sang anak.

Hasil penelitian menemukan bahwa bayi baru lahir yang tatapannya lebih sedikit pada setiap gambar cenderung menjadi lebih hiperaktif dan impulsif di masa kanak-kanak daripada bayi baru lahir yang melihat gambar lebih lama. Secara keseluruhan berdasarkan penelitian, bayi yang melihat lebih sedikit juga memiliki masalah tingkah laku di masa kanak-kanaknya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami mendapatkan bahwa perbedaan perhatian visual bayi baru lahir memprediksikan cara anak bertingkah laku," ucap Angelica Ronald, penulis studi dan juga profesor di Birkbeck, University of London seperti dikutip dari Live Science pada Senin (29/6/2015). Penyelidik mengatakan bahwa mereka tidak mengetahui mekanisme yang menghubungkan perhatian visual bayi dengan tingkah lakunya di masa kanak-kanak, tetapi peneliti akan menyelidiki ini nanti.

Baca juga: Sering Berulah, Anak yang Hiperaktif Ini Dikerangkeng Keluarganya

Peneliti juga mengatakan bahwa mereka terkejut saat menemukan perbedaan besar antara setiap bayi dalam hal seberapa lama mereka melihat gambar. "Ini menunjukkan bahwa bayi baru lahir bukanlah 'blank slates' atau batu tulis kosong, tetapi telah menunjukkan perbedaan antara satu dengan yang lainnya. Perbedaan di antara bayi itu karena genetik atau lingkungan yang dirasakan ketika dalam rahim. Itu menunjukkan bahwa kemampuan anak untuk melihat hal visual tidak hanya dikarenakan oleh pola asuh dan lingkungan setelah kelahiran," ungkap Angelica.

Peneliti telah mengetahui bahwa kondisi yang memengaruhi kesulitan dalam konsentrasi seperti attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) adalah hal yang dapat diwarisi. Jadi masuk akal jika terdapat perbedaan antarindividu dalam kemampuan tersebut. Namun, Angelica menyatakan bahwa dibutuhkan penelitian lebih lanjut terkait hal itu. Dan meskipun perhatian visual seseorang tergantung dari faktor genetik, namun tetap memungkinkan terdapat cara untuk meningkatkan jangkauan perhatian mereka.

"Sebagai tambahan, peneliti menekankan bahwa satu jenis perhatian tidaklah lebih baik daripada yang lainnya. Meskipun memiliki perhatian jangka pendek dapat mengganggu proses belajar seseorang, tingkat variasi antara setiap orang membuat perkembangan pada hal yang berbeda," ucap Angelica.

"Hal itu bisa menjelaskan mengapa seseorang sukses sebagai pembalap mobil, yang membutuhkan perubahan visual yang cepat. Dan orang lain unggul pada sesuatu seperti seni yang konsentrasi pada rangsangan visual membawa lebih banyak manfaat," imbuhnya.

Baca juga: Konsumsi Omega-3 Bisa Tingkatkan Konsentrasi Anak Hiperaktif

(vit/vit)

Berita Terkait