Hanya saja, banyaknya informasi yang muncul harus disikapi dengan bijak. Jangan sampai percaya pada kabar yang ternyata cuma mitos. Apalagi saat ini terlalu banyak mitos yang beredar di masyarakat dan seringkali justru dianggap sebagai suatu kebenaran.
Nah, detikHealth merangkum beberapa mitos dan fakta yang harus ibu ketahui soal bayi. Yuk disimak!
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Kacang hijau bikin rambut bayi lebat
|
Foto: ilustrasi/thinkstock
|
Menurut pakar gizi Leona Victoria Djajadi, MND, secara ilmiah belum ada bukti bahwa kacang hijau bisa melebatkan rambut. Namun demikian, secara nutrisi kacang hijau memang baik dikonsumsi oleh ibu hamil karena merupakan sumber vitamin dan mineral alami.
"Rambut anak biasanya genetik, tidak ada pengaruhnya dengan mengonsumsi kacang hijau atau tidak," tutur Victoria kepada detikHealth.
Meski begitu, kacang hijau cukup kaya akan nutrisi dengan protein dan vitamin, termasuk vitamin E. Asupan ini pun sangat dianjurkan untuk dikonsumsi oleh ibu hamil guna memenuhi kebutuhan nutrisi dan kandungan lemak tak jenuhnya baik untuk membantu perkembangan otak janin.
2. Cukur rambut bayi agar lebat
|
Foto: thinkstock
|
Faktanya, sampai saat ini informasi tersebut belum terbukti kebenarannya. Bayi akan mengalami kerontokan rambut secara alami selama enam bulan pertama kehidupannya, akibat kondisi yang dinamakan sebagai telogen effluvium. Disebutkan bahwa pada intinya rambut memiliki dua fase yaitu fase pertumbuhan (growth stage) and fase istirahat (resting stage).
Dikutip dari News Kid Center, umumnya bayi akan mengalami 'penggantian' rambut baru saat usianya sekitar 4 bulan. Rambut yang baru tumbuh ini biasanya memang akan tumbuh lebih panjang, tebal dan mungkin saja berbeda warna dengan rambut lahirnya.
Sesering apapun Anda mencukur habis rambut bayi, pertumbuhan rambut selanjutnya tidak akan terlalu terpengaruh. Ketebalan rambut bayi lebih dipengaruhi oleh faktor genetik. Jika orang tua si bayi memiliki rambut yang tebal, kemungkinan besar ia akan memiliki rambut tebal juga. Begitu pula sebaliknya.
3. Kulit bayi baru lahir tidak mulus
|
Foto: thinkstock
|
dr Ridwan, SpOG dari Kemang Medical Care, dalam artikelnya di detikHealth menjelaskan putih-putih di kulit yang membuat bayi terlihat kotor adalah vernix casseosa. Secara alamiah vernix casseosa melapisi kulit janin selama trimester akhir kehamilan.
"Zat ini berasal dari kelenjar minyak bayi dan terdiri dari sel minyak serta sel kulit yang telah mengelupas. Kandungan yang terdapat dalam zat tersebut terdiri dari air (80,5 persen), protein (10,3 persen) dan lipid (9,1 persen)," terang dr Ridwan.
Meski tidak sedap dipandang mata, namun dalam vernix casseosa terdapat kandungan polipeptida antimikroba. Diterangkan dr Ridwan, kandungan ini selain melindungi bayi dari mikroba juga mengandung protein yang sifatnya seperti antibiotik. Selain itu juga berfungsi membantu kulit bayi beradaptasi, termasuk membantu menjaga kulit bayi baru lahir tidak mudah kehilangan panas tubuh.
4. Bayi baru lahir alami jerawatan
|
Foto: thinkstock
|
"Bisa dikatakan hal tersebut adalah pengaruh hormon ibu. Nanti bisa hilang sendiri kok," ujar dr Meta Hanindita, SpA, dari RSUD Dr Soetomo Surabaya, beberapa waktu lalu.
Karena merupakan pengaruh hormon dan bukan penyakit, maka tidak diperlukan pengobatan apapun. Setelah dua bulan biasanya jerawat itu hilang sendiri seiring berkurangnya hormon dari ibu yang ada di tubuh bayi.
5. Bercak biru pada bayi baru lahir
|
Foto: thinkstock
|
Meski tidak berbahaya, namun bercak ini memang sulit hilang. Akan tetapi bercak akan semakin menipis seiring dengan bertambah besarnya bayi tersebut.
Bercak yang normal adalah yang berwarna kemerahan atau kebiruan. Tapi jika bercak pada tubuh bayi berwarna kecokelatan, menonjol dan ada di beberapa tempat, patut dicurigai bahwa bayi sedang mengalami gangguan saraf, sehingga perlu segera dibawa ke dokter.
Halaman 2 dari 6











































