Suatu jenis obat bisa efektif untuk seorang pasien tetapi mungkin tidak memberikan hasil seperti yang diharapkan pada pasien yang lain. Disinilah pentingnya Pesonalized Medicine dalam diagnosis kanker.
"Personalized medicine adalah suatu managemen di dunia kedokteran berdasarkan informasi genotype dari pasien, sehingga bisa dilakukan evaluasi untuk mengetahui pengobatan atau treatment apa yang cocok untuk jenis kanker tersebut," ujar Dr. Johan Kurnianda, SpPD KHOM (K) Kepala Divisi Hematologi-Medika Onkologi FK-UGM Yogyakarta, pada acara Roche Fair 2009 'Better Diagnostics to Fit the Right Treatment for Patient' di Hotel Borobudur, Jakarta pada 16 Juni 2009.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengembangan konsep ini didasarkan banyaknya pasien yang tidak mendapatkan penanganan yang tepat. Data menunjukkan bahwa 20%-75% pasien kanker tidak mendapatkan terapi yang efektif, bahkan di Amerika Serikat data tahun 2007 menunjukkan lebih dari 100.000 orang meninggal akibat efek samping obat yang tidak diinginkan.
"Sel kanker tiap orang itu berbeda-beda, ada yang indeks pertumbuhannya cepat tapi ada juga yang indeks pertumbuhannya lambat, jadi treatment-nya pun berbeda-beda," ujar Dr Sri Hartini, SpPK (K-Onkologi), Staf Medik Fungsional Patologi Klinik RS Kanker Dharmais.
Personalized medicine ini meliputi 3 hal yaitu disease prevention, disease detection dan disease treatment. "Syarat yang harus dipenuhi untuk personalized medicine adalah adanya peningkatan pengetahuan tentang biomarker, pharmacogenetics, dan pharmacogenomics," ujar Dr Johan Kurnianda.
Salah satu contoh personalized medicine adalah dengan proses 'finger prick' yaitu meneteskan darah di atas filter paper SS no.30 atau filter paper Whatman no. 3. Darah tersebut di cek di laboratorium untuk mengetahui bagaimana genotypenya, sehingga bisa didapat pengobatan yang tepat.
Di Indonesia pelaksanaan personalized medicine masih dalam tahap awal karena baru sekitar 30%. Beberapa contoh personalized medicine adalah dengan melaksanakan tes HER2 untuk kanker payudara, tes diagnostik mutasi protein akibat prognosis pada kanker kulit.
"Penanganan kanker yang tepat adalah adanya pendekatan dari semua pihak, penelitian yang komprehensif, translational research (penelitian tentang ilmu-ilmu dasar kedokteran) dan personalized medicine," ujar dokter kelahiran Solo berusia 48 tahun ini.
Jadi, sebaiknya lakukan personalized medicine untuk mengetahui genotype dari kanker tersebut, sehingga bisa dilakukan terapi yang tepat dan dapat menghindari kesalahan pengobatan.
Diagnosis yang tepat dapat memperpanjang harapan dan kualitas hidup seorang pasien kanker. (ver/ir)











































