Benarkah jiwa sosial sosial di Indonesia sudah terkikis? Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dengan tegas menolak tudingan tersebut.
"Tidak semua dokter itu komersial, sebenarnya jika dilihat lebih luas masih banyak dokter di Indonesia yang memiliki jiwa sosial," ujar Ketua IDI dr. Fachmi Idris yang ditemui detikHealth di Utan Kayu, Jakarta, Selasa (4/8/2009).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selama ini masyarakat melihat bahwa dokter yang bagus adalah dokter yang memiliki pasien banyak, dan sebagian orang rela mengantre berjam-jam untuk konsultasi dengan dokter tersebut. Padahal dalam hal ini yang dirugikan adalah pasiennya, karena pasien sudah bayar mahal tapi tidak bisa berkonsultasi secara leluasa dengan dokter.
"WHO menyarankan sebaiknya dokter memberikan pasien waktu minimal 15 menit untuk berkonsultasi mengenai penyakitnya," ujar dr. Fachmi Idris.
Menurut Fachmi Idris dengan datang ke dokter yang memiliki pasien lebih sedikit, masyarakat bisa berkonsultasi lebih lama dan terbuka, pemeriksaan fisik lebih lengkap serta bisa meminimalkan kesalahan diagnosis.
Bahkan ada beberapa dokter yang memiliki jiwa sosial dengan terjun langsung ke lapangan, atau berpraktik di daerah-daerah terpencil. Jadi, jangan hanya melihat beberapa dokter di kota besar yang biayanya mahal lalu menyimpulkan bahwa semua dokter itu komersil dan tidak memiliki jiwa sosial.
Intinya lanjut Fachmi, semua dokter diharuskan memiliki jiwa sosial untuk membantu sesama masyarakat terutama yang tidak mampu. Jika ada dokter yang komersil atau mementingkan keuntungan sendiri maka itu adalah hak dokter tersebut.
Tapi di luar itu dokter yang memiliki jiwa sosial atau tidak komersil mungkin jumlahnya lebih banyak dibandingkan dengan dokter yang komersial.












































