Transformasi sel kulit menjadi sel saraf ini diharapkan bisa menjadi alternatif pengganti teknik stem cell (sel induk) yang masih kontroversial karena menggunakan sel embrio manusia. Teknik ini sangat mudah, sampel kulit pasien diambil untuk kemudian diubah menjadi sel-sel saraf.
Dalam The Journal Nature disebutkan, peneliti menggunakan tiga gen untuk mengubah sel-sel kulit tikus menjadi sel-sel saraf atau neuron. Mereka menyebut sel baru itu sebagai 'sel saraf awal'.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keberhasilan Wernig dan timnya dalam mengubah sel kulit menjadi sel saraf juga bisa jadi titik terang untuk mengganti teknik stem cell (sel induk) yang penuh kontroversi. Selama ini beberapa kalangan menentang teknik stem cell ditentang karena menggunakan sel yang berasal dari embrio.
Beberapa tahun lalu peneliti memang sudah menemukan cara untuk mengubah sel kulit menjadi sel mirip embrio yang disebut dengan 'induced pluripotent stem cells'. Teknik ini dianggap lebih etis karena tidak menggunakan sel embrio secara langsung.
Namun hasil laboratorium menunjukkan, sel yang dihasilkan dari teknik 'induced pluripotent stem cells' tidak bisa berkembang dengan baik dan tidak bisa hidup lebih lama dibanding sel-sel embrio asli. Meski demikian, Wernig tetap yakin ia bisa mengubah sel-sel kulit menjadi semua tipe sel.
"Yang diperlukan hanyalah mencari teknik transkripsi yang tepat dan semua sel pun bisa berubah menjadi sel apa saja yang diinginkan," ujar Wernig. Trankripsi adalah suatu proses yang terjadi dalam gen dimana sebuah gen memberi instruksi pada gen-gen lainnya untuk melakukan apa yang harus dilakukan.
Sel baru yang dihasilkan dari transkripsi gen itu kemudian bisa ditransplantasikan (dipindahkan) atau dikembangkan pada satu bagian yang membutuhkan sel tersebut, terutama pada bagian-bagian yang menjadi sumber penyakit.
Saat ini Wernig dan timnya sedang mencoba teknik tersebut pada manusia, meskipun prosesnya akan lebih rumit dibanding pada tikus. Meskipun teknik ini baru diujikan pada tikus, namun peneliti yakin keberhasilan teknik ini bisa terlihat juga pada manusia.
Peneliti juga berharap bisa memprogram ulang sel-sel biasa menjadi beberapa tipe sel untuk mengganti sel-sel yang rusak pada beberapa penyakit seperti liver, diabetes dan kanker.
(fah/ir)











































