Stres pada orang yang melakukan diet rendah kalori dipicu oleh meningkatnya hormon kortisol, yang terkait dengan produksi lemak perut. Fakta ini terungkap dalam sebuah penelitian yang dilakukan di San Fransisco, AS.
A Janet Tomiyama dari California University yang memimpin penelitian tersebut mengungkap, stres terjadi ketika orang menjadi sangat perhatian terhadap konsumsi kalori.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk meneliti hal itu, Janet melibatkan 121 relawan perempuan dan membaginya jadi 4 kelompok diet. Asupan kalori pada kelompok 1 dibatasi 1.200 kalori/hari, dan mencatatnya setiap hari.
Kelompok 2 asupan kalorinya normal dan tidak perlu mencatat. Kelompok 3 dibatasi 1.200 kalori/hari tetapi tidak perlu mencatat, sementara kelompok 4 tidak dibatasi dan tidak perlu mencatat.
Kadar kortisol dan tingkat stres diukur pada awal pengamatan serta 3 bulan sesudahnya. Hasilnya, kadar kortisol meningkat ketika kalori dibatasi. Tingkat stres juga naik ketika relawan harus mencatat asupan kalori setiap hari.
"Istilah diet itu sendiri sudah menghadirkan perasaan terampas, lapar, menderita, susah dan tidak nyaman. Pada akhirnya itu semua menggagalkan upaya menurunkan berat badan," papar ahli gizi Samantha Heller, dikutip dari HealthDay Jumat (9/4/2010).
Menurut Heller, cara terbaik untuk menurunkan berat badan adalah dengan menerapkan gaya hidup sehat. Makan makanan yang sehat dan bervariasi, melakukan aktivitas fisik, serta menjalankan diet sehat yang bertahap dan terencana.
Pendapat senada juga diberikan oleh Dr. David L. Katz, direktur Prevention Research Center di Yale University School of Medicine. Menurutnya diet memang tidak mudah, butuh strategi untuk mengurangi stres.
"Makanan adalah sumber kegembiraan yang bisa meredakan stres. Jika dibatasi, maka harus ada yang menggantikan." ungkap Katz.
"Diet saja tidak akan efektif. Aktivitas fisik dapat membantu mempercepat penurunan berat badan, selain membuat sehat dan meredakan stres," imbuhnya.
(up/ir)










































