Flu Burung Bisa Mewabah Lagi

Flu Burung Bisa Mewabah Lagi

- detikHealth
Rabu, 28 Apr 2010 16:46 WIB
Flu Burung Bisa Mewabah Lagi
Jakarta - Pandemi flu burung di Indonesia memang sudah berlalu. Namun bukan berarti penyakit yang menyerang pernapasan tidak akan muncul lagi. Kewaspadaan terhadap flu burung harus terus dilakukan karena jika lengah bisa mewabah lagi.

Flu burung atau avian influenza (H5N1) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus yang biasanya menjangkiti burung dan mamalia. Maka itu upaya penanggulangan masih terus dilakukan dengan sasaran disesuaikan.

Di Asia Tenggara kebanyakan kasus flu burung terjadi pada jalur transportasi atau peternakan unggas. Virus ini dapat menular melalui udara ataupun kontak melalui makanan, minuman, dan sentuhan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun demikian, virus ini akan mati dalam suhu yang tinggi. Oleh karena itu daging, telur, dan hewan harus dimasak dengan matang untuk menghindari penularan.

Virus dapat bertahan hidup pada suhu dingin. Bahan makanan yang didinginkan atau dibekukan dapat menyimpan virus. Tangan harus dicuci sebelum dan setelah memasak atau menyentuh bahan makanan mentah.

Gejala umum yang dapat terjadi adalah demam tinggi, keluhan pernafasan dan (mungkin) perut. Replikasi virus dalam tubuh dapat berjalan cepat sehingga pasien perlu segera mendapatkan perhatian medis.

Upaya penanggulangan flu burung agar tak mewabah terus dilakukan oleh Komite Nasional Pengendalian Flu Burung dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza (Komnas FBPI) pada tahun 2006.

Di bawah koordinasi Komnas FBPI, USAID memberikan bantuan dengan membentuk Community-Based Avian Influenza Control Project (CBAIC) di akhir tahun yang sama.

Pihak yang dinilai potensial menjadi sarana penyebaran flu burung, karena merupakan bagian dari rantai niaga unggas. Karena lingkupnya lebih luas, sasaran tersebut kemudian dibagi menjadi 8 kelompok kunci yakni:

1. Peternak unggas komersial
2. Peternak ayam kampung
3. Peternak bebek/itik
4. Pedagang dan pengangkut
5. Pemotong unggas
6. Penjual unggas hidup dan potong
7. Pengelola pasar, dan
8. Pelanggan dan konsumen

Kelompok inilah yang paling diutamakan menjadi garda terdepan agar flu burung tidak mewabah lagi. Kebiasaan memakan unggas sakit atau mengubur hewan menjadi salah satu contoh yang terus diterapkan. Kebersihan dan kesehatanunggas yang diperdagangkan menjadi perhatian utama.

CBAIC mencatat pada masing-masing kelompok di atas terdapat 4 hingga 7 perilaku berisiko yang menjadi perhatian proyek tersebut. Jika ditotal, seluruhnya ada 41 perilaku berisiko.

Hingga berakhirnya misi pada tahun ini, CBAIC mengklaim telah berhasil menjangkau lebih dari 100 juta penduduk Indonesia. Sedikitnya 2.166 desa di 17 kabupaten/kotamadya di DIY dan Jawa Tengah juga dirangkul untuk mencegah flu burung ini.

Melibatkan Banyak Pihak

Meski wabah flu burung sudah mereda, kinerja Komnas FBPI tidak berhenti sampai di sini. Wakil Menko Kesra, Emil Agustiono yang hingga akhir bulan lalu menjabat Wakil Ketua Komnas FBPI, menegaskan hal itu dalam jumpa pers di sela-sela seminar "Melanjutkan Upaya Penurunan Resiko Flu Burung" di Hotel Le Meridien, Jakarta 28 April 2010.

Menurut Emil, tiap tahun tercatat 2 virus baru ditemukan. Zoonotic disease atau penyakit yang bisa ditularkan oleh binatang masih perlu diwaspadai, baik berupa emerging infectious diseases (penyakit baru) maupun re-emerging infectious disesase (penyakit lama yang muncul kembali).

Masih menurut Emil, kewaspadaan sangat penting karena merebaknya penyakit semacam itu akan memberikan dampak yang sangat luas.

Sementara itu Walter North, direktur misi USAID untuk Indonesia mengatakan bahwa kerja sama dengan Indonesia akan terus berlanjut. Pihaknya telah menganggarkan sedikitnya 14 juta dolar AS di tahun 2010 untuk membiayai seluruh program yang terkait flu burung di Indonesia.
(up/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads