Ajang ilmiah yang berlangsung, 14-20 Mei 2010 itu diikuti wakil dari negara Brazil, Afrika Selatan, Hungaria, Kanada dan lain-lain. Juara pertama diraih oleh wakil dari Kanada. Sedangkan Dewi Ratih Ayu Daning atau yang akrab dipanggil Daning menempati urutan kedua.
Sebelum mengikuti kompetisi tingkat dunia, gadis kelahiran Malang, 19 Desember 1988 itu harus menyisihkan 80 finalis di tingkat nasional. Setelah terpilih sebagai wakil Indonesia, dia harus mengikuti kompetisi tingkat Asia Pasifik yang diikuti 1.000 finalis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Daning, penelitiannya berawal atas keprihatinannya mengenai peternakan ruminansia seperti sapi potong, sapi perah, kambing dan lain-lain menyumbangkan sekitar 20 persen gas metan di dunia. Padahal gas metan merupakan penyumbang kerusakan lapisan ozon dan menyebabkan pemanasan global.
Melihat hal tersebut, Daning kemudian berusaha mencari cara untuk mengembangkan peternakan yang ramah lingkungan. Dalam penelitiannya dibantu dosen Prof. Dr.Ir. Lies Mira Yusiati, S.U, dia mencoba menambahkan limbah teh hitam pada pakan ternak ruminansia.
"Terbukti limbah teh hitam mampu menurunkan produksi gas metan secara signifikan," ungkap Daning di kampus UGM di Bulaksumur Yogyakarta, Jumat (11/6/2010).
Menurut dia, cara penggunaannya dengan menambahkan limbah teh hitam pada pakan dedak halus dan pakan hijauan. Dari uji coba secara invitro itu, produksi gas metan akan berkurang hingga 60 persen dibanding dengan pakan ternak yang tidak diberikan campuran limbah teh hitam.
"Berkurangnya sangat banyak sekitar 60 persen," kata Daninng.
Menurut dia, limbah teh hitam mengandung senyawa tannin sebesar 1,5 persen yang diketahui dapat menekan pertumbuhan bakteri penghasil gas metan. Senyawa tersebut mampu mengurangi produksi gas metan berkurang saat hewan ternak membuang kotorannya. (bgs/ir)











































