Flu Terus-terusan Selama 16 Tahun

Flu Terus-terusan Selama 16 Tahun

- detikHealth
Jumat, 08 Okt 2010 14:04 WIB
Flu Terus-terusan Selama 16 Tahun
West Yorkshire - Flu atau influenza adalah penyakit yang paling mudah menyerang jika kondisi tubuh sedang tidak fit. Gejalanya seperti demam, pilek dan cepat lelah kadang mengganggu aktivitas penderitanya. Apa jadinya jika gejala flu tersebut harus dirasakan selama 16 tahun berturut-turut?

Kondisi inilah yang dirasakan oleh Kath Robinson dari 16 tahun lalu hingga sekarang. Nenek yang kini berusia 64 tahun harus menghabiskan waktu hidupnya selama 16 tahun untuk merasakan gejala flu.

Setiap pagi selama 16 tahun, Kath selalu terbangun dengan merasa seolah-olah menderita flu berat. Otot dan sendinya selalu sakit, badan panas dan demam, memerah, serta merasa lelah dan lemah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kath adalah seorang pengusaha yang sukses, tapi ia dipaksa harus pensiun lima tahun lalu karena masalah kesehatannya.

Kath baru berkonsultasi dengan dokter setelah sempat mengalami frustasi selama 6 tahun pertama flunya dan mengganggap kondisinya sebagai mimpi buruk yang panjang. Dokter mendiagnosisnya dengan gangguan tiroid yakni hipotiroid yaitu gangguan kesehatan karena kurangnya kadar tiroid dalam tubuh..

Karena gangguan tiroid inilah Kath terus-terusan mengalami flu hingga kini. Ia harus mengonsumsi 13 tablet obat berbeda setiap hari ini.

"Jika dibandingkan dengan keadaan dulu, saya sekarang merasa sangat buruk. Saya dulu punya kehidupan yang aktif," ujar Kath Robinson yang tinggal di West Yorkshire, seperti dilansir dari Dailymail, Jumat (8/10/2010).

Kath memang menderita radang sendi pada pinggul sejak kecil dan awalnya dokter bersikeras bahwa gejala flu yang dirasakannya adalah akibat dari arthritis (radang sendi).

"Selama bertahun-tahun dokter hanya mengatakan pada saya bahwa ini adalah arthritis (radang sendi). Tapi ketika saya menemani kakak ke dokter yang juga memiliki kondisi yang sama dengan saya, saya baru diuji dan akhirnya didiagnosis dengan hipotiroid," kenang Kath.

Kath mengatakan, ia sudah sangat bosan dengan hidupnya. Ia tidak bisa lagi melakukan hal-hal yang ingin dia lakukan. "Saya merasa sudah seperti berusia 90 tahun," ungkap Kath.

"Saat saya mulai melakukan sesuatu, seperti membersihkan rumah atau pergi ke pasar, saya bisa memulai dengan penuh semangat tapi kemudian saya tiba-tiba gemetar dan merasa tidak enak badan," jelasnya.

Kath juga menjelaskan ia bahkan harus selalu memerlukan Philip, suaminya, pada hari-hari terburuknya. Ia kadang bahkan harus menggunakan kursi roda.

"Ini sangat mengerikan, saya seperti menderita flu tapi flu yang permanen dan tak kunjung sembuh," jelas Kath.

Hipotiroid adalah kondisi yang mana kelenjar tiroid di leher tidak mampu memproduksi dan melepaskan hormon tiroid yang cukup ke dalam aliran darah.

Kondisi ini dapat memperlambat metabolisme tubuh yang menyebakan gejala seperti berat badan berlebih, sakit otot, jantung sering berdebar dan kelelahan.

Kondisi ini terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang kelenjar tiroid dan menyebabkan peradangan. Hal ini bisa didiagnosis dengan tes darah. Kondisi ini biasanya mempengaruhi sekitar 1 dari 100 perempuan dan 1 dari 1.000 laki-laki.

Hipotiroid biasanya tidak serius dan tablet tiroksin dapat menyembuhkan gejala-gejalanya. Tapi untuk kasus Kath gangguan tiroidnya tidak bisa disembuhkan.
(mer/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads