Hasil ini berdasarkan survei yang dilakukan oleh IndoPacific Edelman yang bekerja sama dengan Unit Riset dan Pengabdian Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (URPM FKM UI).
Survei ini melibatkan 300 dokter yang dipilih secara acak di daerah Jabodetabek yang terdiri dari 57 persen dokter umum dan 43 persen dokter spesialis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagian besar dokter yang aktif menggunakan internet juga menyarankan pasiennya untuk menggunakan internet atau situs kesehatan sebagai acuan informasi yang terkait dengan kesehatan atau medis.
"Setelah ada internet maka bisa mengubah komunikasi antara dokter dan juga klien (pasien) menjadi lebih efektif. Karena kalau informasinya sudah efektif, maka pengobatan yang dilakukan akan menjadi lebih baik," ujar Prof dr Hasbullah Thabrany, MPH, Dr.PH dari FKM UI, dalam acara Survei Praktisi Kesehatan 2010 di Hotel Nikko, Jakarta, Kamis (28/10/2010).
Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dr Prijo Sidipratomo, MD menuturkan bagi para dokter informasi bisa didapatkan dari jurnal-jurnal kedokteran yang cukup baik seperti New England Journal of Medicine.
Sedangkan bagi masyarakat membaca jurnal mungkin agak sulit untuk dimengerti, karenanya salah satu tugas dokter adalah mengedukasi masyarakat.
"Dipercayanya media dan situs di internet sebagai salah satu sumber informasi membuat saluran ini berpotensi digunakan untuk tujuan edukasi. Tapi hal ini harus tetap mempertimbangkan diagnosa dokter dan komunikasi yang tepat," ujar dr Prijo.
Dampak internet juga mempengaruhi hubungan antara dokter dan pasien. Hal ini karena pasien akan menjadi lebih kritis (banyak bertanya) atau ingin mendiskusikan informasi yang diterimanya dengan dokter. Kondisi ini tentu saja menuntut dokter untuk mencari informasi lebih banyak lagi dan juga memperbaiki cara berkomunikasinya.
Dampak internet lainnya adalah membuat sebagian besar dokter menjadi lebih aktif berinteraksi dengan koleganya serta berbagi informasi kepada orang-orang lain selain pasien, misalnya melalui blog pribadinya.
Ditambahkan Prof Thabrany bahwa salah satu faktor yang membuat banyak masyarakat berobat ke luar negeri adalah komunikasi yang jelek antara dokter dan pasien. Karenanya kalau komunikasi keduanya sudah baik, maka bisa menurunkan jumlah pasien yang berobat ke luar negeri.
Selain itu perlu juga menyadarkan masyarakat tentang haknya untuk bertanya, seperti sakit apa serta obat yang diberikan. Karena kalau tidak ada pertanyaan, maka tidak ada pencerahan tentang komunikasi yang baik antara dokter dan pasien.
(ver/ir)










































