79 Persen Dokter Percayakan Sumber Informasi dari Internet

79 Persen Dokter Percayakan Sumber Informasi dari Internet

- detikHealth
Kamis, 28 Okt 2010 14:55 WIB
79 Persen Dokter Percayakan Sumber Informasi dari Internet
Jakarta - Dokter akan selalu membutuhkan informasi terkini mengenai kesehatan atau penyakit tertentu. Dari hasil survei Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia sekitar 79 persen dokter mempercayakan sumber informasinya dari internet.

Hasil ini berdasarkan survei yang dilakukan oleh IndoPacific Edelman yang bekerja sama dengan Unit Riset dan Pengabdian Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (URPM FKM UI).

Survei ini melibatkan 300 dokter yang dipilih secara acak di daerah Jabodetabek yang terdiri dari 57 persen dokter umum dan 43 persen dokter spesialis.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Survei ini memperlihatkan bahwa sekitar 79 persen dokter mempercayai internet sebagai sumber informasi. Sumber informasi lain yang digunakan dokter adalah majalah kedokteran, jurnal kedokteran, seminar kedokteran dan juga media lain seperti koran, televisi atau tabloid.

Sebagian besar dokter yang aktif menggunakan internet juga menyarankan pasiennya untuk menggunakan internet atau situs kesehatan sebagai acuan informasi yang terkait dengan kesehatan atau medis.

"Setelah ada internet maka bisa mengubah komunikasi antara dokter dan juga klien (pasien) menjadi lebih efektif. Karena kalau informasinya sudah efektif, maka pengobatan yang dilakukan akan menjadi lebih baik," ujar Prof dr Hasbullah Thabrany, MPH, Dr.PH dari FKM UI, dalam acara Survei Praktisi Kesehatan 2010 di Hotel Nikko, Jakarta, Kamis (28/10/2010).

Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dr Prijo Sidipratomo, MD menuturkan bagi para dokter informasi bisa didapatkan dari jurnal-jurnal kedokteran yang cukup baik seperti New England Journal of Medicine.

Sedangkan bagi masyarakat membaca jurnal mungkin agak sulit untuk dimengerti, karenanya salah satu tugas dokter adalah mengedukasi masyarakat.

"Dipercayanya media dan situs di internet sebagai salah satu sumber informasi membuat saluran ini berpotensi digunakan untuk tujuan edukasi. Tapi hal ini harus tetap mempertimbangkan diagnosa dokter dan komunikasi yang tepat," ujar dr Prijo.

Dampak internet juga mempengaruhi hubungan antara dokter dan pasien. Hal ini karena pasien akan menjadi lebih kritis (banyak bertanya) atau ingin mendiskusikan informasi yang diterimanya dengan dokter. Kondisi ini tentu saja menuntut dokter untuk mencari informasi lebih banyak lagi dan juga memperbaiki cara berkomunikasinya.

Dampak internet lainnya adalah membuat sebagian besar dokter menjadi lebih aktif berinteraksi dengan koleganya serta berbagi informasi kepada orang-orang lain selain pasien, misalnya melalui blog pribadinya.

Ditambahkan Prof Thabrany bahwa salah satu faktor yang membuat banyak masyarakat berobat ke luar negeri adalah komunikasi yang jelek antara dokter dan pasien. Karenanya kalau komunikasi keduanya sudah baik, maka bisa menurunkan jumlah pasien yang berobat ke luar negeri.

Selain itu perlu juga menyadarkan masyarakat tentang haknya untuk bertanya, seperti sakit apa serta obat yang diberikan. Karena kalau tidak ada pertanyaan, maka tidak ada pencerahan tentang komunikasi yang baik antara dokter dan pasien.
(ver/ir)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads