Masih Ada Dokter yang Cemas Menangani Pasien HIV/AIDS

Masih Ada Dokter yang Cemas Menangani Pasien HIV/AIDS

- detikHealth
Selasa, 04 Okt 2011 12:02 WIB
Masih Ada Dokter yang Cemas Menangani Pasien HIV/AIDS
Yogyakarta - Meski sudah ada standard operating procedure (SOP), masih ada dokter yang cemas menangani pasien dengan HIV/AIDS (ODHA). Hak ODHA pun seringkali tidak diperhatikan, padahal ODHA juga masih mempunyai hak yang sama.

"Sampai sekarang pun masih ada dokter yang pilih-pilih pasien dan tidak mau menangani pasien dengan HIV/AIDS (ODHA). Padahal sudah terdapat standard operating procedure (SOP) untuk dokter dan praktisi kesehatan dalam penanganan pasien HIV/AIDS," jelas Dr. Ramona Sari, Kepala Divisi Kesehatan Reproduksi dan HIV&AIDS Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia Pusat (PKBI Pusat) dalam acara Pertemuan Nasional AIDS IV tahun 2011 di Hotel Inna Garuda, Yogyakarta, Selasa (4/10/2011).

HIV AIDS (Human Immunodeficiency Virus / Acquired Immunodeficiency Syndrome) adalah penyakit yang belum bisa disembuhkan dan belum ada obatnya. Penularannya terjadi dari cairan ditubuh maka itu penting untuk mengetahui cara-cara penularan HIV/AIDS.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Cairan yang berpotensial mengandung virus HIV adalah darah, cairan sperma, cairan vagina dan air susu ibu. Sedangkan cairan yang tidak menularkan virus HIV adalah cairan keringat, air liur, air mata dan lain-lain. Jadi penularan melalui ciuman tidak terjadi.

Berikut adalah cara-cara penularan HIV/AIDS, seperti dikutip dari situs WHO:
  1. Hubungan seks, terutama melalui anus (anal)
  2. Penggunaan bersama jarum suntik yang terkontaminasi oleh pemakai narkoba atau perawatan kesehatan
  3. Transfusi darah
  4. Antara ibu dan bayinya selama masa hamil, kelahiran dan masa menyusui
  5. Terjadinya luka akibat pemakaian benda yang bersamaan seperti silet, pisau cukur juga bisa menularkan HIV.

Menurut Dr. Ramona, untuk urusan kesehatan seksual dan reproduksi, hak ODHA pun seringkali tidak diperhatikan, padahal ODHA juga masih mempunyai hak yang sama. Seperti halnya hak reproduksi yang merupakan bagian dari hak asasi manusia (HAM), yang telah diakui oleh hukum nasional, dokumen internasional dan dokumen kesepakatan atau perjanjian lainnya.

Dr. Ramone mengatakan ODHA juga memiliki hak seksual yang berkaitan dengan aktivitas seksual, antara lain:
  1. Memperoleh standar tertinggi dari standar kesehatan seksual
  2. Memperoleh akses pelayanan kesehatan seksual
  3. Mencari, menerima dan mendapat informasi yang berkaitan dengan seksualitas
  4. Memperoleh pendidikan seks
  5. Memperoleh respek jasmani seutuhnya
  6. Memilih pasangannya
  7. Memutuskan untuk melakukan aktivitas seksual atau tidak
  8. Menyetujui hubungan seksual
  9. Menyetujui pernikahan
  10. Memutuskan apakah akan mempunyai anak atau tidak, dan kapan akan mempunyai anak
  11. Meneruskan kehidupan seks yang memuaskan, aman dan menyenangkan.

Selain itu, Dr. Ramone juga menyampaikan adanya keuntungan keterkaitan program Sexual Reproductive Health and Rights (SRH) dan HIV & AIDS, antara lain:
  1. Perbaikan akses pelayanan SRH dan HIV&AIDS (termasuk bagi ODHA sesuai dengan kebutuhannya)
  2. Mengurangi atau menghilangkan stigma dan diskriminasi
  3. Meningkatkan cakupan pelayanan SRH bagi masyarakat yang tidak terlayani dan kelompok marginal
  4. Promosi dual protection terhadap KTD (Kehamilan Tidak Diinginkan) dan IMS
  5. Memperbaiki QOC SRH yang berbasis pada hak klien
  6. Meningkatkan efisiensi dan efektivitas program.

Layaknya pasangan sehat lain, para ODHA dan pasangannya juga memiliki terdapat pilihan reproduksi, antara lain:
  1. Perempuan perlu diberi tahu status ovulasinya.
  2. Perempuan HIV positif dan pasangannya HIV negatif: home insemination.
  3. Perempuan HIV negatif dan pasangannya HIV positif: inseminasi dengan 'sperm washing' pasangannya.
  4. Keduanya HIV positif: pelajari status kliniknya, CD4 dan ketersediaan ARV. Pemeriksaan kehamilan lebih intensif dan persalinan lewat sectio caesarian.
  5. Perempuan HIV positif dengan KTD: pertimbangkan pelayanan aborsi aman dan post abortion contraception.

"Namun, sayangnya berbagai pilihan reproduksi untuk ODHA dan pasangannya masih tersedia dengan sangat terbatas dan dengan biaya yang mahal," pungkas Dr Ramona.



(mer/ir)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads