Setelah bergelut dengan tumpukan pekerjaan dan jadwal padat sepanjang hari kerja, akhir pekan sering kali disambut sebagai ajang balas dendam.
Bagi pekerja di perkotaan, Jumat malam atau Sabtu malam menjadi waktu favorit untuk meluapkan keinginan yang tertunda selama weekdays, mulai dari menonton serial favorit, bermain game, hingga berkumpul bersama teman-teman.
Fenomena revenge bedtime procrastination atau balas dendam menunda tidur ini kerap dianggap sebagai bentuk kompensasi atas padatnya rutinitas harian.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Secara psikologis, dorongan untuk tetap terjaga hingga larut malam pada akhir pekan memang hal yang lumrah. Namun, muncul pertanyaan: sejauh mana kebiasaan ini aman bagi kesehatan tubuh dan kualitas tidur?
Dokter ahli tidur (Sommolog), dr Andreas Prasadja, RPSGT menjelaskan, meluangkan waktu untuk hiburan dan interaksi sosial saat akhir pekan adalah hal yang wajar demi menjaga keseimbangan hidup.
Menurut dr Ade, sapaan akrabnya, mengorbankan jam tidur sekali dalam seminggu untuk memanjakan diri tidak lantas merusak tubuh, asalkan dilakukan secara bijak.
"Kalau dari saya, seminggu sekali it's okay. In the weekend kita kan perlu balance, life balance. So in the weekend begadang dalam arti mau balas dendam nonton maraton, mau kehidupan sosial... once a week it's okay. We need balance," tuturnya kepada detikcom, Kamis (8/10/2026).
Jangan Jadikan Kasur Tempat Beraktivitas
Meski memberikan "lampu hijau" untuk begadang sekali seminggu, dr Ade memberikan batasan yang sangat tegas.
Kesalahan terbesar yang paling sering dilakukan saat weekend bukanlah begadangnya, melainkan lokasi di mana aktivitas begadang itu dilakukan.
Melakukan aktivitas hiburan seperti menonton film atau bermain ponsel sambil berbaring di atas tempat tidur sangat tidak direkomendasikan. Sebab, lingkungan untuk tidur dan beraktivitas harus dipisahkan secara disiplin demi menjaga respons psikologis otak.
"Karena kalau kita satukan, irama biologis kita tuh bisa ada risiko untuk terganggu. Karena otak akan mengidentifikasi ini tempat tidur tempat aktivitas, bukan tempat istirahat," jelasnya.
Ketika kasur digunakan untuk mengerjakan aktivitas begadang, otak akan mengalami disorientasi persepsi. Akibatnya, seseorang justru berisiko mengalami kesulitan tidur (insomnia) karena otak masih menganggap kasur sebagai area bermain atau bekerja, bukan area untuk terlelap.
Solusi Praktis Melakukan "Balas Dendam" dengan Aman
Untuk menghindari kekacauan irama sirkadian, dr Ade menyarankan agar seluruh aktivitas begadang dilakukan di luar kamar tidur, misalnya di ruang tamu atau ruang keluarga.
Ia mengatakan, pindah ke tempat tidur dilakukan hanya ketika tubuh benar-benar sudah merasa lelah dan siap untuk tidur.
"So again, kalau dari saya sekali-sekali begadang silakan. Once a week it's okay, we need balance, but jangan di tempat tidur," pungkasnya.
Dengan memisahkan area aktivitas hobi dan area istirahat, kebiasaan menikmati waktu luang di akhir pekan tetap bisa berjalan tanpa harus mengorbankan kualitas tidur harian dan kesehatan irama sirkadian jangka panjang.
Simak Video "Video: Bukan Tanda Tidur Nyenyak, Ngorok Bisa Jadi 'Bahaya' "
[Gambas:Video 20detik] (aur/up)










































