Fenomena mengejar kualitas tidur secara berlebihan atau yang kini populer dengan istilah "sleep maxing" kian marak di kalangan pekerja muda.
Demi mendapatkan istirahat yang dianggap "sempurna", tak sedikit orang berlomba-lomba memantau persentase deep sleep dan REM (Rapid Eye Movement) sleep melalui jam tangan pintar, mengondisikan kamar tidur layaknya laboratorium, hingga mengonsumsi berbagai suplemen.
Namun, alih-alih terbangun dengan tubuh bugar, terobsesi pada statistik tidur justru sering kali mendatangkan kecemasan baru.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pakar kesehatan tidur (Somnolog), dr Andreas Prasadja, RPSGT mengingatkan, tidak perlu terjebak dalam obsesi kualitas tidur yang rumit. Tubuh manusia pada dasarnya tidak menuntut parameter angka yang kompleks untuk bisa beristirahat secara optimal.
"Nggak usah tidur juga terlalu sempurna sleep maxing, dalam arti deep sleep-nya banyak, deep sleep-nya Banyak, nggak usah terlalu sempurna. Keteraturannya aja dulu deh," ujarnya kepada detikcom, Kamis (8/10/2026).
Jebakan Suplemen dan "Solusi Instan" Kualitas Tidur
Di tengah jadwal kerja yang padat, banyak orang mencoba "mengakali" jam tidur yang pendek dengan mengandalkan suplemen seperti melatonin atau magnesium. Harapannya, meski hanya tidur beberapa jam, kualitasnya bisa melompat drastis.
Namun, dr Andreas menegaskan, suplemen bukanlah tongkat sihir yang bisa menggantikan kebutuhan dasar tubuh akan durasi dan rutinitas istirahat yang alami.
"Jadi nggak bisa tuh kita mau kualitas tidurnya bagus, tapi pendek (jam tidurnya). Terus konsumsi melatonin lah, konsumsi magnesium lah. Nggak bisa. Nggak bisa menggantikan tidur yang sehat," terangnya.
Kunci Utama: Konsistensi Jam Tidur dan Bangun
Akar dari kesehatan istirahat sebenarnya terletak pada pemeliharaan irama sirkadian atau jam biologis tubuh.
Ketika seseorang membiasakan diri untuk tidur dan bangun pada jam yang sama setiap harinya, tubuh secara alami akan menyesuaikan siklus pemulihan sel dan hormon tanpa perlu dipaksa oleh berbagai trik medis.
"Sederhana, ya. Sekali lagi, keteraturan itu nomor satu," pungkasnya.
Dengan mengembalikan fokus pada keteraturan jam tidur harian di hari kerja, tubuh akan mendapatkan istirahat yang berkualitas secara alami tanpa perlu terbebani oleh obsesi sleep maxing.
Simak Video "Video: Bukan Tanda Tidur Nyenyak, Ngorok Bisa Jadi 'Bahaya' "
[Gambas:Video 20detik] (aur/up)










































