Heart Rate Tinggi Melulu, Kurang Latihan atau Memang Faktor Genetik?

Tren Flexing Heart Rate

Heart Rate Tinggi Melulu, Kurang Latihan atau Memang Faktor Genetik?

Aura Zahradiva Penggalih - detikHealth
Sabtu, 10 Okt 2026 07:07 WIB
Sporty woman working out by running up urban stairs and monitoring heart rate on smartwatch
Bagi sebagian orang, tiba-tiba berdiri dari posisi duduk saja sudah bikin heart rate sudah meledak-ledak. Foto: Getty Images/wundervisuals
Jakarta -

Pamer Heart Rate (HR) menjadi tren baru di kalangan pegiat olahraga. Mampu melakukan latihan intens dengan HR tetap terjaga tidak terlalu tinggi dianggap sebagai standar kebugaran yang layak dibanggakan.

Sebaliknya, sebagian pelari sering merasa cemas ketika angka HR mereka melonjak cepat meski baru menempuh jarak pendek. Bukan cemas sih, insecure tepatnya.

Teorinya, variasi HR akan sangat dipengaruhi oleh latihan. Makin terlatih, makin efisien jantung bekerja memompa darah ke seluruh tubuh sehingga HR bisa teramati lebih rendah untuk intensitas yang sama.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun sebenarnya, apakah faktor lain seperti genetik juga berpengaruh? Atau sesimpel HR tinggi memang menandakan aerobic base seseorang belum terbentuk?

ADVERTISEMENT

Variasi Biologis vs Faktor Eksternal

Terkait klaim "tipe HR tinggi", praktisi kedokteran olahraga, dr Maria Lestari, B.Med.Sc, P.G.Dip.SEM, SpKO menjelaskan, faktor genetik dalam variasi detak jantung memang nyata adanya.

"Ada variasi biologis dalam denyut jantung maksimal dan respons denyut jantung antarindividu. Faktor genetik ikut berperan. Jadi, dua orang yang berlari pada pace yang sama memang bisa memiliki HR berbeda," terang dr Maria kepada detikcom, Rabu (30/9/2026).

Meski demikian, dr Maria menegaskan, HR yang menyentuh angka 160 BPM saat berlari tidak bisa serta-merta dicap sebagai bukti bahwa seseorang memiliki "tipe HR tinggi", dan tidak otomatis membuktikan bahwa aerobic base-nya buruk.

"HR saat berlari dipengaruhi banyak faktor: HR maksimal dan ambang tiap orang, kebugaran, suhu dan kelembapan, dehidrasi, kurang tidur, stres, kafein, kondisi sedang sakit, serta akurasi alat ukur," jelasnya.

Oleh karena itu, menilai tingkat kebugaran atau menarik kesimpulan mengenai kesehatan organ vital tidak bisa hanya didasarkan pada hasil satu kali sesi lari saja.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video Mitos-Fakta: Jantung Bocor, Penyebab Hingga Gejalanya"
[Gambas:Video 20detik] (aur/up)
Tren Flexing Heart Rate
12 Konten
Ribut-ribut antara dokter jantung vs netizen kembali meramaikan jagat maya. Kali ini, pendapat dokter jantung tentang HR Max atau denyut jantung maksimal saat berolahraga didebat oleh netizen yang merasa hitungan sang pakar tidak masuk logikanya.

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads