Meski tidak disebutkan jenis hormon yang dimaksud, namun perbedaan komposisi hormonal membuat pria secara alamiah lebih terprogram untuk melakukan kekerasan. Kecenderungan untuk menyerang akan lebih besar ketika seorang pria berada dalam satu kelompok.
Dalam tataran naluri kejantanan, teori evolusi mengaitkan kecenderungan ini dengan kebutuhan untuk memperoleh pasangan dalam rangka memenuhi kebutuhan reproduksi. Namun pada tataran yang lebih tinggi, kecenderungan ini berlaku juga untuk mempertahankan teritori atau wilayah kekuasaan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para peneliti mengungkap, perilaku semacam ini juga teramati pada simpanse jantan. Baik kaum pria maupun simpanse jantan sama-sama memiliki keterikatan yang lebih kuat terhadap identitas kelompok, sehingga menjadi lebih agresif saat bersama-sama menghadapi ancaman dari luar kelompok.
"Sebuah solusi untuk konflik, yang merupakan masalah paling umum di masyarakat, hingga kini masih sulit ditemukan. Salah satu alasannya adalah tidak mudah mengubah pola pikir yang sudah berevolusi ribuan tahun lamanya," kata Prof Mark van Vugt yang melakukan penelitian tersebut seperti dikutip dari Telegraph, Selasa (24/1/2012).
Salah satu hormon yang digolongkan sebagai hormon seks pria adalah testosteron, yang fungsinya antara lain memunculkan tanda-tanda seksual sekunder di masa pubertas. hormon ini memicu tumbuhnya rambut-rambut halus di kemaluan, serta perubahan suara pada remaja pria menjadi lebih berat.
Meski disebut sebagai hormon seks pria, hormon ini sebenarnya juga diproduksi oleh wanita. Namun demikian, kadar testosteron yang diproduksi wanita lebih sedikit dan kurang dominan dibandingkan dengan hormon seks wanita seperti progesteron dan esterogen.










































