"Saat ini alat kontrasepsi yang tersedia untuk pria adalah kondom serta vasektomi (KB steril pria), sedangkan untuk pil KB pria sampai saat ini masih dalam tahap pengujian klinis fase 2," jelas Dr dr Sugiri Syarief, MPA, Kepala BKKBN, dalam acara Press Conference 'Pentingnya mempercepat penyebaran informasi tentang kontrasepsi dalam rangka menekan angka kelahiran di Indonesia' di Hotel Millenium, Jakarta, Jumat (24/2/2012).
Tapi kebanyakan pria Indonesia masih enggan untuk ber-KB dengan berbagai alasan. Dari data BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional), lebih dari 60 persen pasangan usia subur sudah mengikuti program KB, tapi hanya 1,2 persen pria yang ber-KB menggunakan kondom dan 0,3 persen pria yang vasektomi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, dari hasil temuan dari survei dan penelitian, berikut beberapa alasan klasik mengapa suami tidak mau ber-KB:
- Larangan dari keluarga
- Kurang pengetahuan
- Kurang kesadaran
- Kurang informasi
- Metode terbatas
- Kurang dukungan istri
- Kurang saran dan biaya
- Adanya rumors yang membuat takut
Lalu kapan suami sebaiknya ber-KB?
- Setiap saat baik untuk menunda kehamilan, mengatur jarak kehamilan dan mengakhiri kesuburan.
- Menyadari jumlah anak dianggap cukup dan istri tidak cocok menggunakan jenis alat kontrasepsi apapun.
- Empati suami terhadap istri dan tidak ingin menambah beban isteri (over burdent) dengan bertambahnya jumlah anak.
- Sebagai bukti suami sayang kepada istri dan ingin membebaskan istri dari ketergantungan pemakaian alat kontrasepsi.
- Suami-istri mempertimbangkan kemampuan ekonominya dalam membesarkan dan membiayai pendidikan anak.
(mer/ir)











































