Kadar Estrogen Bisa Bantu Deteksi Kanker Paru-Paru

Kadar Estrogen Bisa Bantu Deteksi Kanker Paru-Paru

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Rabu, 04 Apr 2012 14:30 WIB
Kadar Estrogen Bisa Bantu Deteksi Kanker Paru-Paru
(Foto: Thinkstock)
Jakarta - Peneliti telah lama tahu bahwa asap tembakau adalah penyebab kanker paru-paru nomor satu. Namun penemuan baru-baru ini memperlihatkan bahwa estrogen mungkin juga akan memainkan peranan pada penyakit tersebut.

Ini bukanlah jenis kanker pertama yang dikaitkan dengan estrogen karena hormon ini juga diketahui mampu meningkatkan kanker payudara maupun kanker ginekologis lainnya.

Penelitian baru ini dipresentasikan pada Pertemuan Tahunan AACR 2012 oleh para ilmuwan Fox Chase Cancer Center di Philadelphia.

Jika kadarnya estrogennya tinggi, bisa menunjukkan bahwa orang itu lebih rawan terserang kanker paru-paru atau memiliki prognosis yang lebih buruk.

"Kami yakin bahwa kadar racun metabolit estrogen ini nantinya bisa berguna dalam memprediksi risiko atau prognosis kanker paru-paru pada seseorang," ujar peneliti.

Untuk menyelidikinya,  Jing Peng, rekanan di laboratorium Margie L. Clapper, PhD, memeriksa paru-paru tikus sehat dan menemukan bahwa paru-paru itu mengandung metabolit estrogen berkadar tinggi yang dikenal sebagai 4-hydroxy estrogen (4-OHE) dan bersifat karsinogenik.

Secara spesifik, 4-OHE membantu mengaktifkan proses yang meningkatkan pertumbuhan sel dan menghasilkan radikal bebas yang bisa merusak sel.

Ketika peneliti memaparkan asap tembakau pada tikus selama 8 minggu, peneliti menemukan bahwa kadar 4-OHE-nya meningkat.

"Kami percaya bahwa metabolit estrogen ini dapat merusak sel-sel dan berkontribusi terhadap kanker paru-paru," kata Clapper seperti dilansir dari Science Daily, Rabu, (4/4/2012).

Tikus betina memiliki jumlah 4-OHE dua kali lipat dalam paru-parunya dibandingkan dengan tikus jantan setelah pengendalian kadar estrogen totalnya dilakukan. Namun apakah kondisi ini juga akan terjadi pada manusia masih harus diselidiki.

"Ketika kanker paru-paru tidak lagi umum bagi wanita, jumlah perokok pasif atau non-smoker yang mengidap kanker paru-paru justru lebih banyak terjadi para pria daripada wanita," jelas Clapper.

Di masa depan, Peng dan Clapper berharap hasil ini akan membantu peneliti mengembangkan terapi baru yang menargetkan adanya metabolisme estrogen sebagai salah satu cara untuk mengobati atau mencegah kanker paru-paru.



(ir/ir)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads