Ancaman Hipertensi di Balik Renyah dan Gurihnya Kol Goreng

Dilema Kol Goreng

Ancaman Hipertensi di Balik Renyah dan Gurihnya Kol Goreng

Aura Zahradiva Penggalih - detikHealth
Sabtu, 17 Okt 2026 08:07 WIB
Close up of cabbage on a slicing mat in the kitchen.
Kol segar lebih bernutrisi ketimbang digoreng. Foto: Getty Images/Tuccera LLC
Jakarta -

Aroma gurih kol goreng yang garing kerap makin menggugah selera saat diberi taburan garam atau bumbu penyedap rasa. Olahan sayur yang satu ini memang disukai karena teksturnya yang renyah.

Namun di balik kenikmatan tersebut, kombinasi proses penggorengan dan tambahan bumbu tabur justru menciptakan ancaman ganda bagi kesehatan tubuh. Sayur yang sebenarnya kaya nutrisi bermanfaat saat dalam kondisi segar, jadi membawa risiko bagi kesehatan karena digoreng.

Makanan Sehat yang Jadi "Gemuk Kalori"

Proses penggorengan dengan suhu tinggi membuat struktur dinding sel kol rusak dan menyerap minyak dalam jumlah besar. Ketika kol goreng yang sudah padat lemak tersebut masih ditambah bumbu penyedap dan garam, kualitas gizinya semakin merosot tajam.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dokter spesialis gizi klinik, dr Igus Ulfa Yaze, SpGK, menjelaskan, tambahan bumbu-bumbu tersebut membuat sajian yang sejatinya rendah kalori berubah menjadi makanan yang memicu kenaikan berat badan.

"Terus udah pasti kalorinya akan tinggi banget. Jadi kayak gemuk kalori nih si kolnya, padahal kolnya gak bikin kenyang," ucap dr Yaze kepada detikcom, Jumat (16/10/2026).

ADVERTISEMENT

Dobel Risiko Hipertensi dan Lemak Jenuh

Tidak hanya memicu lonjakan kalori tanpa rasa kenyang, kandungan natrium yang tinggi dari garam dan micin pada kol goreng berpotensi mengganggu tekanan darah.

Penyerapan minyak jenuh yang berpadu dengan asupan natrium berlebih menjadi kombinasi berbahaya bagi pembuluh darah.

"Itu kan yang tadinya si kol ini sehat, sayuran, bahkan dia tuh sebenernya ada kandungan untuk pencegah kankernya, eh ini gara-gara misalnya udah minyaknya minyak jelantah, ditambahin beberapa bumbu sama akhirnya ditambahin garam," jelasnya.

"Kan natriumnya ikutan tinggi juga. Malah bisa menyebabkan penyakit hipertensi gitu," lanjutnya.

Waspadai Bahaya Lemak Trans dan Natrium

Sering kali tidak disadari, kebiasaan mengonsumsi kol bumbu secara terus-menerus dapat menumpuk lemak jenuh dan lemak trans di dalam tubuh.

Hal ini diperparah oleh penggunaan minyak goreng yang dipanaskan berulang kali.

Mengingat tingginya risiko hipertensi dan obesitas akibat kol goreng berbumbu, dr Yaze mengingatkan, perlunya kecermatan dan mindful dalam memilih sajian harian demi menjaga kesehatan jangka panjang.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Viral Mi Ayam Micin Brutal di Mata Ahli Ginjal"
[Gambas:Video 20detik] (aur/up)
Dilema Kol Goreng
4 Konten
Kol segar merupakan sayuran yang punya banyak kandungan nutrisi bermanfaat. Kalau digoreng, bukan hanya manfaatnya berkurang. Minyaknya juga membawa risiko bagi kesehatan.

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads