Kol Goreng Tak Sehat karena Jelantah, Bisakah Diganti Minyak Lain?

Kol Goreng Vs Kolesterol

Kol Goreng Tak Sehat karena Jelantah, Bisakah Diganti Minyak Lain?

Aura Zahradiva Penggalih - detikHealth
Minggu, 18 Okt 2026 14:03 WIB
Authentic Indian food and snacks close up
Minyak jelantah. Foto: Getty Images/AltairSe
Jakarta -

Kehadiran kol goreng sebagai pendamping makan malam kerap menimbulkan pertanyaan terkait dampak kesehatannya.

Banyak orang meyakini bahwa mengganti minyak kelapa sawit biasa dengan minyak yang dianggap lebih sehat, seperti olive oil atau minyak baru, dapat membuat kol goreng sepenuhnya bebas dari risiko penyakit.

Namun, apakah jenis minyak yang digunakan benar-benar memengaruhi tingkat keamanan kol goreng bagi tubuh?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perbandingan Minyak Baru dan Minyak Jelantah?

Dari sudut pandang gizi, menggunakan minyak baru atau jenis minyak berkualitas memang memberikan nilai tambah dibandingkan minyak pedagang yang dipanaskan berulang kali.

ADVERTISEMENT

Penggunaan minyak jelantah terbukti meningkatkan risiko pembentukan lemak trans dan senyawa asam lemak berbahaya.

Dokter spesialis gizi klinik, dr Igus Ulfa Yaze, SpGK, menjelaskan bahwa pengolahan mandiri dengan jenis minyak yang tepat relatif lebih aman dari paparan zat berbahaya.

"Kalo dibandingkan sama beli di luar ya pasti jauh lebih aman ketika pake olive oil ya. Atau mau masak di rumah dengan minyak yang nggak digoreng berkali-kali, minyak baru lah intinya. Kalo misalnya disamain sama yang di luar, udah pasti yang dibikin sendiri lebih aman," jelas dr Yaze kepada detikcom, Jumat (16/10/2026).

Suhu Tinggi Merusak Nutrisi Kol

Meskipun menggunakan jenis minyak terbaik, proses penggorengan suhu tinggi (di atas 150 hingga 180 derajat celcius) tetap memberikan dampak buruk terhadap gizi alami kol.

Pemanasan ekstrem akan memecahkan dinding sel sayuran serta merusak vitamin C, asam folat, dan antioksidan yang sensitif terhadap suhu panas.

"Cuman tetep sama kayak tadi, vitamin sama antioksidannya bisa pecah atau bisa rusak ketika kita manasinnya lebih dari 60 derajat sampai 100 derajat celsius. Jadi memang dia cuman dipanasin sebentar gitu, itu masih oke," paparnya.

Efek Spons dan Risiko Minyak Berulang

Penggunaan jenis minyak apa pun tidak mengubah sifat fisik kol yang bertindak seperti spons saat dimasukkan ke dalam wajan panas.

Ketika air di dalam kol menguap, rongga-rongga kosong tersebut akan terisi oleh minyak, sehingga sajian ini tetap menjadi makanan yang sangat padat kalori dan kaya lemak.

"Terus karena terlalu dipanasin, terlalu panas nih, apalagi misalnya dipanasinnya pakai minyak jelantah atau minyak yang dipanasin berkali-kali dengan suhu yang tinggi, yaudah pasti dinding sel kolnya itu pasti bakal pecah," katanya.

"Terus air didalamnya juga menguap. Nah karena dia menguap, rongga kosongnya itu malah diisi sama minyak tadi. Minyak yang ternyata udah punya beberapa resiko," lanjutnya.

Pilihan jenis minyak memang berpengaruh terhadap kualitas kebersihan dan tingkat bahaya radikal bebas, namun tidak sepenuhnya menghilangkan risiko penumpukan kalori dan kerusakan nutrisi pada kol goreng.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Punya GERD, Amankah Menyantap Daging Kurban?"
[Gambas:Video 20detik] (aur/up)
Dilema Kol Goreng
6 Konten
Kol segar merupakan sayuran yang punya banyak kandungan nutrisi bermanfaat. Kalau digoreng, bukan hanya manfaatnya berkurang. Minyaknya juga membawa risiko bagi kesehatan.

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads