Benarkah Kol Goreng Bikin Kanker? Kata Ahli Gizi Sih Begini

ADVERTISEMENT

Benarkah Kol Goreng Bikin Kanker? Kata Ahli Gizi Sih Begini

Fadilla Namira - detikHealth
Rabu, 25 Jan 2023 15:18 WIB
Kol goreng
Benarkah kol goreng bikin kanker? (Foto: Istimewa)
Jakarta -

Perpaduan antara ayam penyet dan kol goreng seringkali menggugah selera makan masyarakat Indonesia. Tak jarang seseorang rela membelinya secara terpisah demi mendapatkan kenikmatan dari kol goreng. Namun dibalik kelezatannya tersebut, benarkah kol goreng bikin kanker?

Kol atau kubis merupakan sayuran silangan asal Eropa yang kini kerap dikonsumsi masyarakat Asia sebagai lalapan atau bahan utama sup. Sama halnya dengan jenis sayuran lain, kol memiliki nutrisi penting yang diperlukan tubuh.

Dikutip dari Medical News Today, kol kaya akan vitamin C yang larut dalam air yang berperan dalam pembentukan kolagen. Kolagen nantinya bekerja dengan mempertahankan dan menjaga struktur tulang, otot, kulit, dan pembuluh darah. Selain itu, vitamin C berfungsi melindungi tubuh dari banyak penyakit kronis akibat radikal bebas, termasuk kanker.

Senyawa pelawan kanker potensial lainnya yang ditemukan dalam kol adalah sulforaphane. Penelitian yang berjudul 'Epigenetic Regulation by Sulforaphane: Opportunities for Breast and Prostate Cancer Chemoprevention' pada 2015 menulis sulforaphane memiliki kekuatan untuk menghambat enzim berbahaya, histone deacetylase (HDAC), yang diketahui terlibat dalam perkembangan sel kanker dalam tubuh, terutama melanoma, esofagus, prostat, dan pankreas.

Dari banyaknya manfaat kol tersebut, sebenarnya mitos atau fakta kol goreng menyebabkan kanker? Simak penjelasan ahli gizi berikut ini.

Benarkah Kol Goreng Bikin Kanker?

Kol goreng disebut-sebut mengandung senyawa amina heterosiklik yang bersifat karsinogenik pemicu kanker. Karenanya, banyak orang beranggapan kol yang sudah 'diceburkan' dalam minyak panas bisa meningkatkan risiko penyakit mematikan tersebut.

Ahli gizi olahraga dan kebugaran dari Indonesia Sport Nutritionist Association (ISNA) Mochammad Rizal mengatakan zat tersebut biasanya berasal dari kerak-kerak panci atau wajan. Jadi, tidak ada penelitian yang menyebut kol sendiri bisa menyebabkan kanker.

Terlepas dari hal tersebut, makanan yang diproses dengan cara 'deep-fryer' memang tidak disarankan untuk dikonsumsi setiap hari. Dikutip dari Nutrition Facts, minyak panas dapat menghasilkan senyawa yang berpotensi karsinogenik, apalagi jika dipakai berulang kali. Selain itu, beberapa jenis sayuran yang digoreng bisa memicu akrilamida.

Tak henti sampai di situ, makanan berminyak mengandung lemak dan kolesterol yang tinggi. Jika dikonsumsi secara berlebihan, bisa menyebabkan plak di pembuluh darah sehingga rentan terkena stroke ataupun gangguan jantung.

Sebaiknya konsumsilah kol secara alami tanpa tambahan minyak atau bumbu berlemak. Bila ingin tetap garing, kol bisa dimasak menggunakan metode sauteing atau tumis. Metode ini terbilang sehat karena memakai lebih sedikit minyak dan digoreng dalam waktu singkat.

Meski banyak yang mempertanyakan benarkah kol goreng bikin kanker? Penting untuk mengingat bahwa penyakit tersebut bisa dipicu oleh banyak hal, salah satunya rokok dan minum alkohol berlebihan. Jadi, gaya hidup sehat adalah kunci mencegah pertumbuhan sel kanker.



Simak Video "Indonesia Catat 11 Ribu Kasus Baru Kanker pada Anak"
[Gambas:Video 20detik]
(suc/suc)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT