Penelitian juga menunjukkan bahwa peningkatan kadar testosteron dapat mengurangi lingkar pinggang dan tekanan darah. Namun, tidak semua ahli sepakat dengan temuan ini.
Dalam pertemuan European Congress on Obesity, para ahli memperingatkan bahwa suplemen testoteron mungkin bukan solusi yang tepat karena akan meningkatkan risiko kanker prostat dan penyakit jantung.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beberapa ahli telah menemukan hubungan rendahnya kadar testosteron dengan 'menopause' pada pria. Gejalanya termasuk perubahan pola tidur, kurang konsentrasi, merasa tidak berharga dan cemas.
Penelitian yang dibiayai Bayer Pharma, produsen terapi penggantian hormon testosteron ini mengamati 115 orang pria obesitas berusia antara 38 - 83 tahun yang memiliki kadar testosteron rendah. Para pria disuntik dengan hormon setiap 12 minggu untuk meningkatkan kadar hormonnya.
Rata-rata, para pria dalam peneltiian kehilangan 16 kg berat badannya selama 5 tahun ketika kadar testosteronnya kembali normal. Peneliti juga tidak menemukan peningkatan risiko kanker prostat, efek samping yang sering ditemukan dalam penelitian lain.
"Kami melihat bahwa pria yang kekurangan hormon testoteron mengalami berbagai masalah seperti disfungsi ereksi, kelelahan dan kurang energi. Ketika menganalisis data, kami menemukan bahwa pria-pria ini mengalami penurunan berat bada ," kata peneliti, dr Farid Saad.
Nampaknya peningkatan testosteron memulihkan tingkat energi dan menyebabkan perubahan perilaku menjadi lebih aktif secara fisik.
Hubungan antara obesitas dan testosteron adalah sebuah lingkaran setan. Ada banyak penelitian yang menunjukkan bahwa obesitas berkaitan dengan rendahnya kadar testosteron pada pria dan penurunan massa otot.
Akibat penuaan, kadar testosteron cenderung menurun perlahan-lahan, terutama setelah berusia 40-50 tahun. Kondisi ini dapat menyebabkan pria rentan mengidap obesitas yang kemudian menyebabkan penurunan kadar testosteron.










































