Senin, 23 Jul 2012 08:55 WIB

Junk Food ala Barat Tingkatkan Risiko Jantung Orang Asia

- detikHealth
ilustrasi (foto: Thinkstock)
Jakarta - Globalisasi telah membuat fast food (makanan cepat saji) yang dikenal sebagai makanan yang kurang bernutrisi dari Amerika itu telah menjadi alternatif makan yang banyak ditemukan di Asia Timur dan Asia Tenggara.

Namun baru-baru ini sebuah studi mengemukakan hasil pengamatannya selama 10 tahun tentang pengaruh makanan sampah ala Barat itu terhadap kesehatan populasi non-Barat, terutama terkait dengan perubahan gaya hidupnya.

"Banyak kultur yang menerima makanan cepat saji ala Barat karena ini adalah pertanda perekonomian mereka maju. Meski begitu dari perspektif kesehatan mungkin ada harga yang harus dibayar untuk ini," ungkap Andrew Odegaard dari University of Minnesota School of Public Health yang memimpin studi ini.

Untuk studi ini dilibatkan lebih dari 60.000 orang Singapura keturunan China yang diamati selama 10 tahun. Partisipan berusia anara 45-74 tahun dan selama periode studi, 1.397 partisipan meninggal akibat penyakit jantung dan 2.252 mengidap penyakit diabetes tipe 2.

Setelah mempertimbangkan faktor lain yang dapat mempengaruhi kesehatan, termasuk usia, jenis kelamin, status merokok dan tingkat pendidikan, tim peneliti Odegaard menemukan bahwa fast food ala Timur atau dimsum seperti mi dan kue bola tidak dikaitkan dengan penyakit diabetes tipe 2 dan kematian akibat penyakit jantung.

"Penyebabnya bukan cemilan mereka sendiri, namun fast food ala Amerika-lah yang meningkatkan risikonya," terang Odegaard seperti dilansir dari Reuters Health, Senin (23/7/2012).

Partisipan yang diketahui makan fast food dua kali atau lebih perminggu memiliki kemungkinan 27 persen lebih besar untuk terserang diabetes dan 56 persen meninggal akibat penyakit jantung dibandingkan dengan partisipan yang makan sedikit fast food atau tidak sama sekali.

Namun diantara 811 partisipan yang diketahui makan fast food empat kali atau lebih perminggu, risiko kematian akibat jantungnya meningkat hingga 80 persen.

Meskipun orang Singapura yang makan fast food cenderung terlihat lebih muda, terdidik dan aktif secara fisik serta tidak merokok dibandingkan rekan-rekannya yang terjebak dalam pola makan yang lebih tradisional, namun hal ini juga menunjukkan adanya perbedaan profil konsumen yang nyata dengan konsumen fast food di Barat, tambahnya.

"Di negara seperti Singapura, orang-orang terpola untuk mengadaptasi kultur Amerika sebagai simbol dari status sosialnya, berbeda dengan orang-orang Amerika sendiri yang cenderung makan fast food karena faktor kenyamanan dan harganya yang relatif murah," terang Odegaard.

Studi ini telah dipublikasikan dalam jurnal Circulation.





(ir/ir)