1. Penyendiri
Ilustrasi (dok: Thinkstock)
|
Seperti halnya James Holmes, kebanyakan pelaku penembakan brutal punya kepribadian yang cenderung pendiam dan tidak mudah bergaul. TJ Lane, pelaku penembakan brutal di Ohio yang menewaskan 3 siswa sembuah SMA awal tahun 2012 bahkan pernah menjadi korban bullying di sekolahnya.
2. Berjenis kelamin laki-laki
Ilustrasi (dok: Thinkstock)
|
Berdasarkan catatan NY Times, 95 persen kasus penembakan brutal di Amerika Serikat sejak tahun 1949 dilakukan oleh laki-laki. Catatan tersebut tidak termasuk peristiwa-peristiwa penembakan dalam kasus pembunuhan berantai, terorisme, perang antar geng maupun kekerasan dalam rumah tangga.
3. Usia 35-49 tahun
Ilustrasi (dok: Thinkstock)
|
Dibandingkan kasus pembunuhan pada umumnya, penembakan brutal punya kekhasan jika dilihat dari usia pelaku. Jika mayoritas (36,6 persen) pembunuhan atau penembakan biasa dilakukan oleh kelompok usia 18-24 tahun, kebanyakan (35,8 persen) penembakan brutal dilakukan kelompok usia 35-49 tahun. Hanya 17,6 persen penembakan brutal yang dilakukan kelompok usia 18-24 tahun.
4. Memiliki riwayat gangguan mental
Ilustrasi (dok: Thinkstock)
|
Banyak dari pelaku penembakan brutal punya riwayat gangguan mental, misalnya kecenderungan split personality atau kepribadian ganda. Sehari-hari tampak ramah, tahu-tahu mengamuk dan menembaki siapa saja. Salah seorang pelaku penembakan di Tucson tahjun 2011, Jared Loughner bahkan didiagnosis schizophrenia.
5. Punya kecenderungan bunuh diri?
Ilustrasi (dok: Thinkstock)
|
Beberapa pelaku penembakan brutal mengakhiri aksinya dengan menghabisi nyawanya sendiri. Aksi bunuh diri seperti ini terjadi pada sekitar 39,4 persen dari kasus penembakan brutal di Amerika Serikat. Namun tidak semua pelaku melakukan bunuh diri, contohnya pelaku penembakan 'The Joker' James Holmes yang akhirnya menyerahkan diri.
Seperti halnya James Holmes, kebanyakan pelaku penembakan brutal punya kepribadian yang cenderung pendiam dan tidak mudah bergaul. TJ Lane, pelaku penembakan brutal di Ohio yang menewaskan 3 siswa sembuah SMA awal tahun 2012 bahkan pernah menjadi korban
bullying di sekolahnya.
Berdasarkan catatan NY Times, 95 persen kasus penembakan brutal di Amerika Serikat sejak tahun 1949 dilakukan oleh laki-laki. Catatan tersebut tidak termasuk peristiwa-peristiwa penembakan dalam kasus pembunuhan berantai, terorisme, perang antar geng maupun kekerasan dalam rumah tangga.
Dibandingkan kasus pembunuhan pada umumnya, penembakan brutal punya kekhasan jika dilihat dari usia pelaku. Jika mayoritas (36,6 persen) pembunuhan atau penembakan biasa dilakukan oleh kelompok usia 18-24 tahun, kebanyakan (35,8 persen) penembakan brutal dilakukan kelompok usia 35-49 tahun. Hanya 17,6 persen penembakan brutal yang dilakukan kelompok usia 18-24 tahun.
Banyak dari pelaku penembakan brutal punya riwayat gangguan mental, misalnya kecenderungan split personality atau kepribadian ganda. Sehari-hari tampak ramah, tahu-tahu mengamuk dan menembaki siapa saja. Salah seorang pelaku penembakan di Tucson tahjun 2011, Jared Loughner bahkan didiagnosis schizophrenia.
Beberapa pelaku penembakan brutal mengakhiri aksinya dengan menghabisi nyawanya sendiri. Aksi bunuh diri seperti ini terjadi pada sekitar 39,4 persen dari kasus penembakan brutal di Amerika Serikat. Namun tidak semua pelaku melakukan bunuh diri, contohnya pelaku penembakan 'The Joker' James Holmes yang akhirnya menyerahkan diri.
(up/ir)