Ini Sebabnya Wanita Lebih Mudah Gendut Dibanding Pria

Ini Sebabnya Wanita Lebih Mudah Gendut Dibanding Pria

Putro Agus Harnowo - detikHealth
Jumat, 04 Jan 2013 12:30 WIB
Ini Sebabnya Wanita Lebih Mudah Gendut Dibanding Pria
ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta - Ada yang menganggapnya lumrah, ada yang menganggapnya kutukan. Tapi kebanyakan wanita lebih mudah membengkak berat badannya setelah mencapai usia tertentu ketimbang pria. Ternyata penyebabnya ada pada enzim tertentu di dalam tubuh.

Enzim tersebut bernama Aldh1a1 dan berperan penting dalam produksi lemak. Setelah memasuki menopause, kadar enzim ini pada wanita meningkat. Enzim ini tak hanya ditemukan pada manusia saja, melainkan tikus juga memilikinya.

Untuk lebih memahami mekanisme enzim ini, para peneliti melakukan percobaan pada tikus. Para peneliti mengamati bahwa tikus betina yang makan makanan kaya lemak lebih aktif enzim Aldh1a1-nya sehingga banyak membuat dan menimbun lemak di sekitar perut atau disebut lemak visceral.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dibanding tikus jantan, aktivitas enzim ini tidak setinggi pada tikus betina. Laporan yang dimuat jurnal Diabetes juga menyebutkan bahwa pada tikus betina yang telah direkayasa genetika agar enzimnya berkurang, ternyata mereka tetap kurus walau makan makanan kaya lemak.

Hormon estrogen pada wanita dapat menekan aktivitas Aldh1a1. Pada usia muda, wanita masih banyak memiliki hormon ini sehingga dapat melindunginya dari efek buruk enzim yang membikin gendut. Namun setelah menopause, kadar estrogen menurun drastis sehingga jadi rentan mengalami kenaikan berat badan.

"Dengan menargetkan Aldh1a1, peneliti mungkin dapat mengembangkan pengobatan obesitas khusus untuk wanita," kata Ouliana Ziouzenkova, asisten profesor nutrisi manusia di Ohio State University seperti dilansir Live Science, Jumat (4/1/2013).

Karena penelitian ini masih dilakukan pada tikus, para peneliti terlebih dahulu harus menunjukkan bahwa temuan ini juga berlaku pada manusia. Tak hanya itu, enzim Aldh1a1 sebenarnya berperan penting untuk tubuh sehingga peneliti tidak dapat senaknya menghilangkan enzim ini sepenuhnya.

(pah/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads