Gula yang Satu Ini Bikin Rakus Makan

Gula yang Satu Ini Bikin Rakus Makan

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Minggu, 06 Jan 2013 13:00 WIB
Gula yang Satu Ini Bikin Rakus Makan
Ilustrasi (dok: Thinkstock)
Jakarta - Telah lama diketahui bahwa konsumsi berbagai jenis gula, terutama secara berlebihan dapat berakibat pada risiko obesitas dan diabetes. Baru-baru ini ditemukan fakta lain yang semakin memperkuat hal itu.

Tim peneliti dari AS menemukan bahwa salah satu jenis gula yang paling banyak ditemui pada berbagai jenis makanan yang beredar di AS yaitu fruktosa ternyata dapat menyebabkan perubahan struktur otak sehingga memicu orang yang bersangkutan agar makan berlebihan.

Bahkan setelah mengonsumsi minuman yang mengandung fruktosa, otak partisipan dilaporkan tidak menunjukkan respons yang sama dengan kondisi otak ketika mengalami kenyang seperti halnya ketika glukosa sederhana yang dikonsumsi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk memastikan hal itu, peneliti menggunakan scan MRI (magnetic resonance imaging) untuk melacak aliran darah di dalam otak 20 partisipan muda yang memiliki berat badan normal sebelum dan setelah partisipan diminta mengonsumsi minuman yang mengandung glukosa atau fruktosa dalam dua sesi yang berjarak beberapa minggu.

"Hasil scanning menunjukkan bahwa meminum glukosa mematikan atau menekan aktivitas bagian otak yang berfungsi kritis dalam memberikan reward dan memenuhi keinginan akan makanan tertentu," ungkap salah satu peneliti Dr. Robert Sherwin dari Yale University School of Medicine, New Haven, Conn.

"Begitu juga ketika meminum fruktosa, kami tidak melihat adanya perubahan. Hasilnya keinginan untuk makan terus berlanjut," lanjutnya seperti dikutip dari cbsnews, Minggu (6/1/2013).

Tim peneliti melihat perubahan ini terjadi pada hypothalamus, insula dan striatum yaitu bagian otak yang bertugas mengatur selera makan, motivasi dan pemberian reward pada tubuh, termasuk meningkatkan koneksi antara beberapa bagian otak yang bertugas memunculkan rasa kenyang.

Namun karena studi yang dipublikasikan dalam Journal of the American Medical Association (JAMA) ini berskala kecil sehingga tak dapat membuktikan jika fruktosa dan rekan-rekannya seperti sirup jagung berfruktosa tinggi dapat menyebabkan obesitas.

Hanya saja para peneliti mengungkapkan bahwa temuan studi ini menambah bukti bahwa gula memang memainkan peranan penting dalam memunculkan risiko obesitas pada seseorang. Apalagi fruktosa telah lama ditambahkan pada berbagai jenis minuman dan makanan olahan di AS sejak tahun 1970-an.

Menanggapi studi ini, Dr. Jonathan Purnell, seorang pakar endokrinologi dari Oregon Health & Science University pun mengungkapkan bahwa hasil scanning otaknya menunjukkan bahwa fruktosa setidaknya dapat meningkatkan asupan makanan dan penambahan berat badan, dengan kata lain fruktosa adalah aktor yang tak kalah jahatnya dengan glukosa.

Untuk itu, Purnell merekomendasikan agar orang-orang lebih banyak memasak atau mengonsumsi makanan buatan rumah serta membatasi konsumsi makanan olahan, terutama yang mengandung fruktosa dan sirup jagung berfruktosa tinggi. "Cobalah hindari minuman berpemanis buatan. Tapi bukan berarti Anda tak boleh meminumnya," ujarnya.

(/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads