Dengan kata lain, tim peneliti dari Baruch College, City University of New York menyatakan kondisi mental seseorang akan lebih sehat jika ia tiba-tiba menghentikan pembicaraan atau mendiamkan (menerapkan silent treatment) pada orang yang membuatnya jengkel ketimbang melanjutkan obrolan tersebut.
"Sangat menguras tenaga ketika Anda memaksakan diri untuk terlibat dalam sebuah percakapan yang menyesatkan ketika yang Anda inginkan adalah mengabaikan orang yang diajak bicara. Namun pengucilan atau mendiamkan orang lain yang menjengkelkan ini tak hanya membuat Anda mencapai tujuan tapi juga melestarikan sumber daya atau menghemat tenaga Anda," ungkap ketua tim peneliti Kristin Sommer, profesor psikologi dari Baruch College di New York
Kesimpulan tersebut diperoleh Sommer dan rekannya, Juran Yoon setelah melakukan dua studi terhadap 120 orang. Pertama, setiap partisipan diminta untuk berbincang dengan partisipan lainnya dan bersikap 'sangat menyenangkan' (sopan dan egaliter) atau 'sangat tidak menyenangkan' (kasar dan keras kepala).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seperti dilansir dari cbsnews, Kamis (21/2/2013), dari situ diketahui bahwa partisipan dapat memperlihatkan performa kerja yang buruk setelah mengabaikan pembicaraan dengan orang yang sangat menyenangkan, sebaliknya performa partisipan menjadi lebih baik ketika ia menggunakan silent treatment atau mendiamkan orang yang bersikap ofensif saat berinteraksi.
Hal itu artinya berinteraksi dengan orang yang sangat menyenangkan dan mengabaikan orang yang cerewet atau menjengkelkan sama-sama dapat meningkatkan kinerja seseorang karena keduanya dapat menghemat sumber daya tenaga dan pikirannya.
Studi ini telah dipublikasikan dalam Journal of Social and Personal Relationships.











































