Menkes: Belum Ada Terapi Alternatif yang Bisa Sembuhkan Kanker

Menkes: Belum Ada Terapi Alternatif yang Bisa Sembuhkan Kanker

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Jumat, 01 Mar 2013 11:32 WIB
Menkes: Belum Ada Terapi Alternatif yang Bisa Sembuhkan Kanker
Jakarta - Di internet, banyak ditemukan testimoni sembuh dari kanker berkat terapi non-konvensional baik berupa produk-produk herbal maupun inovasi lain. Pesan Menteri Kesehatan (Menkes), jangan terkecoh karena hingga kini belum ada yang terbukti bisa sembuhkan kanker.

"Ada beberapa non-konvensial dalam arti jamu-jamu kita yang telah terbukti (manjur) secara evidence based, tetapi belum untuk kanker," kata Menkes Nafsiah Mboi dalam simposium The Role of Internist in Cancer Management di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Jumat (1/3/2013).

Menurut Menkes, jamu-jamu yang telah dibuktikan khasiatnya melalui program saintifikasi jamu antara lain bisa menyembuhkan hipertensi, diabetes dan asam urat. Untuk menyembuhkan kanker, hingga kini masih terus diteliti sehingga belum bisa diklaim ada alternatif untuk menyembuhkan kanker.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Karena itu, Menkes menegaskan bahwa sampai saat ini belum ada bukti ilmiah bahwa terapi non-konvensional bisa menyembuhkan kanker. Testimoni-testimoni sembuh dari kanker seperti yang banyak ditemukan di internet juga tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

"Ada beberapa yang merupakan adjuvan, artinya meningkatkan daya tahan tubuh. Kalau itu, ada beberapa yang telah dibuktikan. Kalau daya tahan tubuh meningkat, gejala berkurang tetapi tidak berarti sel-selnya sembuh," lanjut Menkes.

Demikian juga dengan inovasi-inovasi seperti bra anti kanker payudara yang dikembangkan Dr Warsito dari Universitas Indonesia, menurut Menkes juga belum ada bukti ilmiahnya. Masih harus dikaji apakah aman untuk pasien, serta apakah berguna dan efektif bagi pasien.

"Kita tidak boleh menipu pasien. Jadi kalau sudah dibuktikan bermanfaat dan sudah disertifikasi, apakah bisa menyembuhkan atau meredakan," tambah Menkes.

Meningkatnya jumlah penderita kanker sayangnya tidak diimbangi dengan peningkatan jumlah dokter spesialis penyakit dalam yang memiliki subspesialisasi hematologi dan onkologi medik. Karena itu, dokter-dokter spesialis penyakit dalam diharapkan punya kemampuan untuk menangani kanker termasuk melakukan deteksi dini.

(up/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads