"Ada beberapa non-konvensial dalam arti jamu-jamu kita yang telah terbukti (manjur) secara evidence based, tetapi belum untuk kanker," kata Menkes Nafsiah Mboi dalam simposium The Role of Internist in Cancer Management di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Jumat (1/3/2013).
Menurut Menkes, jamu-jamu yang telah dibuktikan khasiatnya melalui program saintifikasi jamu antara lain bisa menyembuhkan hipertensi, diabetes dan asam urat. Untuk menyembuhkan kanker, hingga kini masih terus diteliti sehingga belum bisa diklaim ada alternatif untuk menyembuhkan kanker.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ada beberapa yang merupakan adjuvan, artinya meningkatkan daya tahan tubuh. Kalau itu, ada beberapa yang telah dibuktikan. Kalau daya tahan tubuh meningkat, gejala berkurang tetapi tidak berarti sel-selnya sembuh," lanjut Menkes.
Demikian juga dengan inovasi-inovasi seperti bra anti kanker payudara yang dikembangkan Dr Warsito dari Universitas Indonesia, menurut Menkes juga belum ada bukti ilmiahnya. Masih harus dikaji apakah aman untuk pasien, serta apakah berguna dan efektif bagi pasien.
"Kita tidak boleh menipu pasien. Jadi kalau sudah dibuktikan bermanfaat dan sudah disertifikasi, apakah bisa menyembuhkan atau meredakan," tambah Menkes.
Meningkatnya jumlah penderita kanker sayangnya tidak diimbangi dengan peningkatan jumlah dokter spesialis penyakit dalam yang memiliki subspesialisasi hematologi dan onkologi medik. Karena itu, dokter-dokter spesialis penyakit dalam diharapkan punya kemampuan untuk menangani kanker termasuk melakukan deteksi dini.
(up/)










































