Kebotakan dan kerusakan jaringan pada kulit adalah hal yang paling banyak ditakuti sebagai efek dari kemoterapi. Maka tak heran banyak orang yang kemudian lari ke dukun untuk melakukan pengobatan alternatif. Padahal masih ada pengobatan alternatif yang tidak jelas dasarnya.
"Orang kena penyakit kanker itu bukan cuma dia yang sakit tapi satu keluarga ikut-ikutan 'sakit'. Akhirnya, bukan menolong malah jadi merugikan penderitanya dengan membawa ke alternatif," ujar Prof dr Soehartati Gondhowiardko, SpRad(K)OnkRad.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengobatan alternatif, holistik, obat-obatan herbal, dukun, sampai dilempar ke kambing pun menjadi pilihan sebelum pasien kemudian rela maju ke meja operasi. Karena tidak diatasi dengan baik, saat pasien pergi ke dokter, banyak yang sel kankernya sudah menyebar.
"Herannya dokter itu menjadi pilihan terakhir setelah pilihan-pilihan pengobatan lain. Biasanya pasien datang dengan kondisi yang jauh lebih parah akibat pengobatan yang tidak benar. Ada yang sudah memakai rompi selama 3 bulan, akhirnya memilih ke dokter setelah tubuhnya lecet dan luka-luka parah. Kankernya sudah menjalar ke mana-mana. Hal-hal seperti ini yang harus dicegah dan diedukasi ke masyarakat," kata Prof Tati.
Ia juga mengatakan bahwa pengidap kanker rata-rata sudah tidak rasional lagi. Namun yang harus tetap diingat adalah keluarga tidak boleh panik.
"Sugesti yang membuat orang itu lebih baik, maka tetaplah berpikir positif, itu yang harus dipercayai," ucap Prof Tati.
Kanker diketahui menduduki posisi ke-3 dari 10 penyakit ganas lainnya. 90 Persen penyakit ini tercipta akibat pola hidup yang tidak baik dan kurangnya kepedulian masyarakat. Menurut Prof Tati kasus pasien kanker yang diketahui dulu 1 banding 1.000, namun pada akhir tahun 2012 meningkat menjadi 4,3 banding 1.000.
(/)










































