Walau Diresepkan Dokter, Obat-obat Ini Punya Efek Samping Berbahaya

Walau Diresepkan Dokter, Obat-obat Ini Punya Efek Samping Berbahaya

- detikHealth
Rabu, 22 Mei 2013 10:22 WIB
Walau Diresepkan Dokter, Obat-obat Ini Punya Efek Samping Berbahaya
ilustrasi (Foto: Getty Images)
Jakarta -

1. Proton pump inhibitor (PPI)

ilustrasi (Foto: Getty Images)
Jutaan orang di AS meminum PPI untuk meringankan gejala gastroesophageal reflux disease (GERD), suatu kondisi yang ditandai dengan naiknya kembali makanan dan asam dari lambung ke kerongkongan.

Sayangnya, obat jenis ini seperti Nexium (exomeprazole) dan Prevacid (lansoprazole), telah terbukti menghambat penyerapan gizi dan produksi asam lambung yang diperlukan tubuh. Konsumsi jangka panjang ditemukan berkaitan dengan peningkatan risiko pneumonia dan kenaikan berat badan yang tak sehat.

2. Statin

ilustrasi (Foto: Getty Images)
Statin dipuji sebagai obat ajaib untuk mengatasi kolesterol tinggi dan penyakit jantung. Namun jenis statin yang populer seperti Lipitor (atorvastatin calcium) dan Crestor (rosuvastatin kalsium) terbukti sangat meningkatkan risiko diabetes, penyakit hati, kerusakan otak, atrofi otot dan bahkan kematian dini.

Efek samping dari obat ini sangat parah. Sudah ada banyak studi yang menunjukkan bahwa mengonsumsi statin hanya sedikit dampaknya dalam mencegah serangan jantung atau stroke. Artinya, obat ini secara medis kurang berguna bagi jutaan orang yang sudah diresepkan.

3. Antibiotik

ilustrasi (Foto: Getty Images)
Obat ini merupakan penyebab bakteri menjadi kebal terhadap perngobatan. Pemberian antibiotik dalam jumlah banyak seringkali tidak berpengaruh terhadap penyakit. Penyalahgunaannya untuk jangka panjang telah membuat infeksi menjadi lebih mematikan dan tak dapat diobati.

Di AS ada 3 jenis antibiotik berbahaya yang paling sering diresepkan, yaitu Levaquin (levofloksasin), Vancocin (vankomisin hidroklorida) dan Bactrim (trimetoprim dan sulfametoksazol). Antibiotik seperti Cipro (ciprofloxacin), Avelox (moksifloksasin HCL), dan Floxin (ofloksasin) dapat menyebabkan kecacatan berat hingga permanen.

4. Antipsikotik

ilustrasi (Foto: Getty Images)
Antipsikotik umumnya diresepkan untuk kondisi seperti skizofrenia, gangguan bipolar dan depresi berat. Tetapi obat antipsikotik populer seperti Seroquel (quetiapine fumarat), Abilify (aripiprazole), Risperdal (risperidone) dan Zyprexa (olanzapine) telah terbukti meningkatkan kadar gula darah, lemak dan kolesterol, serta memicu kenaikan berat badan.

Yang lebih memprihatinkan adalah kerusakan saraf dan otak untuk jangka panjang. Beberapa pasien juga mengalami sindrom metabolik yang dapat mencakup penyakit seperti penyakit jantung dan diabetes.

5. Opioid penghilang rasa sakit

ilustrasi (Foto: Getty Images)
Obat ini secara resmi telah dinyatakan sebagai penyebab utama kematian di Amerika saat ini. Beberapa yang dianggap berbahaya adalah yang berasal dari oioid seperti Vicodin (hydrocodone bitartrate dan acetaminophen), OxyContin (oksikodon HCI), Percocet (oksikodon dan acetaminophen), kodein dan morfin.

Menurut sebuah studi dari Brandeis University di Massachusetts, resep obat penghilang rasa sakit bertanggung jawab menyebabkan overdosis lebih fatal dari gabungan heroin dan kokain.

6. Selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI)

ilustrasi (Foto: Getty Images)
Antidepresan seperti Prozac (fluoxetine), Zoloft (sertraline), Paxil (paroxetine), dan Lexapro (escitalopram) telah ada selama bertahun-tahun, tapi risiko penggunaannya sangat jarang disorot. Efek sampingnya dapat berupa kecenderungan bunuh diri, disfungsi seksual, perdarahan gastrointestinal dan penyakit jantung.

Dalam beberapa kasus, SSRI sebenarnya dapat membuat gejala depresi semakin parah, menyebabkan peminumnya jadi lebih mudah terlibat kekerasan.
Halaman 6 dari 7
(pah/vit)

Berita Terkait