1. Proton pump inhibitor (PPI)
|
ilustrasi (Foto: Getty Images)
|
Sayangnya, obat jenis ini seperti Nexium (exomeprazole) dan Prevacid (lansoprazole), telah terbukti menghambat penyerapan gizi dan produksi asam lambung yang diperlukan tubuh. Konsumsi jangka panjang ditemukan berkaitan dengan peningkatan risiko pneumonia dan kenaikan berat badan yang tak sehat.
2. Statin
|
ilustrasi (Foto: Getty Images)
|
Efek samping dari obat ini sangat parah. Sudah ada banyak studi yang menunjukkan bahwa mengonsumsi statin hanya sedikit dampaknya dalam mencegah serangan jantung atau stroke. Artinya, obat ini secara medis kurang berguna bagi jutaan orang yang sudah diresepkan.
3. Antibiotik
|
ilustrasi (Foto: Getty Images)
|
Di AS ada 3 jenis antibiotik berbahaya yang paling sering diresepkan, yaitu Levaquin (levofloksasin), Vancocin (vankomisin hidroklorida) dan Bactrim (trimetoprim dan sulfametoksazol). Antibiotik seperti Cipro (ciprofloxacin), Avelox (moksifloksasin HCL), dan Floxin (ofloksasin) dapat menyebabkan kecacatan berat hingga permanen.
4. Antipsikotik
|
ilustrasi (Foto: Getty Images)
|
Yang lebih memprihatinkan adalah kerusakan saraf dan otak untuk jangka panjang. Beberapa pasien juga mengalami sindrom metabolik yang dapat mencakup penyakit seperti penyakit jantung dan diabetes.
5. Opioid penghilang rasa sakit
|
ilustrasi (Foto: Getty Images)
|
Menurut sebuah studi dari Brandeis University di Massachusetts, resep obat penghilang rasa sakit bertanggung jawab menyebabkan overdosis lebih fatal dari gabungan heroin dan kokain.
6. Selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI)
|
ilustrasi (Foto: Getty Images)
|
Dalam beberapa kasus, SSRI sebenarnya dapat membuat gejala depresi semakin parah, menyebabkan peminumnya jadi lebih mudah terlibat kekerasan.
Halaman 6 dari 7











































