Namun saat ini telah ditemukan teknologi laboratorium yang lebih efisien dengan cara mempersingkat proses pengelolaannya. "Sampel dari unit pelayanan dikirim dengan menggunakan teknologi Pneumatic Tube System (PTS) sehingga mengurangi tingkat kesalahan data seperti tertukar atau salah diagnosa," ujar Ahdia Amini perwakilan dari PT Indofarma Global Medika.
Hal ini diungkapkannya dalam acara Menuju Rumah Sakit JCI Dengan Dukungan Layanan Laboratorium Klinik Terpadu. Acara ini digelar pada Jumat, (28/6/2013) di Intercontinental Mid Plaza Hotel, Jl Sudirman, Jakarta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dr dr Ina S.Timan, Sp.PK pun turut menambahkan bahwa dengan automasi mesin ini data dapat dihasilkan kurang dari 2 jam. "Ada tes-tes khusus itu dibatasi sebelum 2 jam harus sudah keluar. Jadi, begitu dokter lab bilang boleh keluar hasilnya, 1 detik kemudian sudah bisa dibaca di ruangan," kata dr Ina.
Dr Ina mengungkapkan walaupun penyakitnya sama-sama anemia, tapi tidak bisa langsung disamakan obatnya. "Bisa saja yang satu penyebabnya kurang vitamin b, yang lain mungkin kurang darah jadi tidak asal diagnosa," tegasnya.
Laboratorium yang bekerja dengan sistem terpadu ini, menurut dr Ina, dikelola oleh sekitar 60 tenaga IT dan dapat menghasilkan data untuk maksimal 3.500 pasien per hari. Nah, laboratorium ini telah beroperasi di beberapa rumah sakit di Indonesia.
Beberapa di antaranya adalah RSUP Nasional dr Cipto Mangunkusumo Jakarta, RSUP H. Adam Malik Medan, RSUP dr Saiful Anwar Malang, RSUD dr Soetomo Surabaya, RSUP dr Hasan Sadikin Bandung, RSUP dr M. Hoesin Palembang, serta RSUD R. Syamsudin Sukabumi.
(vit/vit)











































