"Puasa memang kewajiban, namun dalam kondisi tertentu jika si pasien memaksakan kehendak untuk tetap melanjutkan puasa, bukan tidak mungkin akan mempertaruhkan nyawanya," ujar dr Em Yunir, SpPD, KEMD, spesialis penyakit dalam, dalam acara 'Kelola Diabetes Anda Secara Tepat Selama Berpuasa!', yang diadakan di ruang Candi Kalasan, Hotel Grand Sahid Jaya, Jl Jend Sudirman, Jakarta, Selasa (2/7/2013).
Saat menjalankan ibadah puasa, seorang penyandang diabetes harus rutin melakukan cek kadar gula darah untuk mengetahui apakah kondisi tubuhnya masih memungkinkan untuk melanjutkan berpuasa hingga maghrib atau tidak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Begitu juga sebaliknya, jika kondisi gula darahnya sudah meningkat, yaitu berada di atas 300 mg/dL, maka pasien juga harus segera berbuka puasa. Lantas bagaimana jika setengah jam menjelang berbuka puasa gula darahnya berada di bawah 70 mg/dL atau di atas 300 mg/dL?
"Saya sarankan untuk tetap berbuka, meskipun sudah sedikit lagi waktunya berbuka puasa. Bukan apa-apa, tapi ini masalah nyawa. Kita tidak pernah tahu bagaimana kondisi pasien beberapa menit kemudian, kalau dipaksakan menunggu tapi taruhannya nyawa bagaimana?" imbuh dr Yunir.
Dr Yunir menambahkan, ia seringkali mendapatkan pasien yang memaksa ingin melanjutkan puasa. Jika kondisinya sudah seperti ini, ia akan memberikan edukasi lanjutan pada pasien. Ia ingin mengingatkan pasien bahwa dokter melakukan tindakan seperti ini untuk kelangsungan hidup pasien.
(vit/vit)











































