Rabu, 14 Agu 2013 11:09 WIB

Gangguan Ekstrem, Sedih Luar Biasa Hanya karena Sentuh Celana Jins

- detikHealth
Ilustrasi (dok: Thinkstock)
Jakarta - Seorang perempuan di San Diego, California mengalami gangguan ekstrem yang mengacaukan emosi dengan indra perabanya. Hanya dengan menyentuh tekstur celana jins, perempuan tersebut bisa mengalami sedih yang luar biasa sampai depresi.

Perempuan 22 tahun berinisial AW tersebut merupakan pasien Dr Vilayanur Ramachandran, seorang neurosaintis di University of California, San Diego. Jika menyentuh jins membuat si pasien depresi, menyentuh sutra justru membuatnya sangat bahagia dan terpuaskan.

Gangguan emosi juga akan dirasakannya saat bersentuhan dengan tekstur korduroi (kain dengan serat melintir). Ia bisa mendadak bingung saat menyentuhnya. Begitu pula saat menyentuh bahan kulit, ia akan merasa seperti menerima kritik pedas dari banyak orang.

Pasta gigi warna warni dilaporkan bisa membuatnya merasa gelisah tidak menentu. Lilin wax yang biasa dipakai untuk menyukur rambut halus di badan bisa membuatnya merasa dipermalukan, bahkan memegang tablet parasetamol bisa membuatnya cemburu tanpa alasan.

Setelah menjalani serangkaian tes, oleh Dr Vilayanur pasien tersebut didiagnosis mengalami gangguan saraf otak yang disebut sinestesia. Gangguan tersebut membuat emosinya terkacaukan oleh sinyal-sinyal rangsangan dari kulit sebagai indra peraba.

Rekan Dr Vilayanur, Dr David Brang kemudian melakukan tes pada penderita sinestesia lain yakni HS, seorang perempuan berusia 20 tahun. Pada HS, jins tidak memicu reaksi emosi apapuntetapi kordurai membuatnya jijik meskipun normalnya kain tersebut jauh dari kesan kotor.

Para ilmuwan ini kemudian melaporkan kasus tersebut di jurnal Neurocase dan mengaitkannya dengan proses evolusi yang dialami manusia. Menurut para ilmuwan tersebut, kondisi seperti ini kadang memberi keuntungan bagi manusia dalam bertahan hidup.

"Nenek moyang primata mungkin mengalami evolusi yang membentuk mekanisme di bawah sadar untuk memprediksi kemungkinan bahwa sesuatu bisa menjadi sumber bahaya," tulis para ilmuwan seperti dikutip dari Daily Mail, Rabu (14/8/2013).

(up/vit)