Kuman TBC pada Monyet dan Manusia, Sama Atau Beda?

Topeng Monyet dan Penyakitnya

Kuman TBC pada Monyet dan Manusia, Sama Atau Beda?

Ajeng Anastasia Kinanti - detikHealth
Senin, 28 Okt 2013 10:37 WIB
Kuman TBC pada Monyet dan Manusia, Sama Atau Beda?
Ilustrasi (dok: detikFoto)
Jakarta - Sebagai salah satu penyakit yang mematikan bagi manusia, nyatanya hewan seperti monyet pun bisa terjangkit penyakit tersebut dan menularkan ke manusia. Namun apakah kuman penyebab TBC pada monyet sama seperti kuman TBC yang biasa menyerang manusia?

"Secara umum, TBC bisa ditularkan melalui proses penularan droplet, misalnya dari batuk atau bersin oleh individu yang mengidap TBC aktif," ujar Dr drh Joko Pamungkas, MSc, Kepala Pusat Studi Satwa Primata LPPM IPB, saat dihubungi detikHealth dan ditulis pada Senin (28/10/2013).

Dilanjutkan Dr Joko, proses penularan lainnya bisa juga terjadi jika seseorang yang terjangkit TBC meludah sembarangan. Setelah ludah tersebut mengering partikel dari bakteri bisa ditularkan terbawa angin dan menyebar sehingga menularkan pada yang lain, yang disebut sebagai aerosolisasi. Begitu juga dengan penularan pada monyet ekor panjang, jenis monyet yang digunakan dalam atraksi topeng monyet.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Secara umum penyakit TBC disebabkan oleh bakteri dari genus Mycobacterium. Genus tersebut terbagi lagi menjadi 3 jenis, yaitu Mycobacterium humanus (pada manusia) atau primata; Mycobacterium bovis (pada sapi); dan Mycobacterium aves (pada unggas).

"Nah, yang di primata itu sebagian besar bisa ditularkan ke manusia. Manusia sebenarnya lebih rentannya hanya pada jenis Mycobacterium humanus, tapi meskipun begitu tetap memiliki kans untuk tertular TBC dari monyet," terang Dr Joko.

Pendapat serupa dikemukakan oleh Dr Emil Agustiono, MKes, Sekretaris Komnas Pengendalian Zoonosis, kepada detikHealth. Ia mengungkapkan bahwa penyakit TBC yang bisa ditularkan melalui droplet bisa ditularkan pada manusia dari monyet jika monyet tersebut bersin, batuk, atau buang ludah.

"Ya sama, karena pada dasarnya manusia dan primata kan mirip," ujar Dr Emil.

(ajg/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads