"Sebenarnya bisa dilihat antara lain dari kulitnya yang sudah tidak segar. Kemudian matanya juga kelihatan sayu," kata Benfica alias Iben dari Jakarta Animal Aid Network (JAAN) saat dihubungi detikHealth, seperti ditulis pada Senin (28/10/2013).
Hasil pemeriksaan JAAN terhadap 40 ekor monyet sepanjang tahun 2011-2012 menunjukkan, 22 persen terinfeksi TBC dan hepatitis. Kedua jenis penyakit ini bisa ditularkan ke manusia, dan sebaliknya bisa pula ditularkan oleh manusia ke monyet.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau infeksi gusi, di bagian atas mulut kadang-kadang sampai ada lubang dan keluar cairan. Kalau seudah begitu, berarti sudah tembus ke kulit infeksinya," terang Iben.
Penanganan monyet-monyet yang terinfeksi penyakit pun cukup dilematis. Untuk mengobati monyet-monyet tersebut sakit sampai sembuh, oleh sebagian kalangan dinilai kurang efisien bila dibandingkan dengan risiko kekambuhan setelah dilepas ke alam liar.
Namun euthanasia atau suntik mati juga tidak bisa sembarangan karena bertentangan dengan animal welfare atau kesejahteraan hewan. Iben mengatakan, euthanasia baru dilakukan bila rekomendasi para dokter mengatakan bahwa penyakit yang diderita para monyet sudah sangat kronis dan membahayakan.
"Membahayakan itu dalam arti membahayakan manusia, maupun sesama jenisnya bila kelak dilepaskan ke alam," jelas Iben.
Untuk monyet dengan penyakit yang masih memiliki peluang untuk disembuhkan, Iben merekomendasikan untuk masuk ke kandang isolasi. Monyet-monyet itu pun akan dirawat, diobati hingga benar-benar sembuh sebelum dilepas ke habitatnya.










































