Februari: Heboh Permen Karet Pembangkit Libido!

Kaleidoskop 2013

Februari: Heboh Permen Karet Pembangkit Libido!

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Selasa, 17 Des 2013 19:42 WIB
Februari: Heboh Permen Karet Pembangkit Libido!
Foto: Ilustrasi/Thinkstock
Jakarta - Diawali peringatan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di akhir Januari, heboh permen karet pembangkit libido menjadi pembuka bulan Februari 2013. Kelangkaan Neonatus Intensive Care Unit (NICU) juga cukup menyita perhatian.

Permen karet yang tidak memiliki izin edar dari BPOM tersebut mencakup 3 merek, yakni Sexy Gum, Sex Love dan US Passion Cachou. Tidak dijelaskan detail efek sampingnya, tetapi ketiga permen yang dijual di internet dan kios obat kuat tersebut dinyatakan berbahaya.

Masih di awal bulan Februari 2013, BPOM kembali disibukkan oleh pesan berantai di jejaring sosial tentang kerupuk mengandung plastik. Dikatakan dalam pesan tersebut, kerupuk yang mengandung plastik akan menyala jika disulut dengan nyala api.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ratmono, Direktur Inspeksi dan Sertifikasi Pangan Olahan BPOM kala itu memastikan bahwa informasi tersebut tidak benar. Semua kerupuk akan menyala jika disulut api karena sifatnya yang menyerap minyak saat digoreng, sementara minyak memang mudah terbakar.

Tak kalah penting untuk dicatat, pada bulan Februari 2013 bayi Dera yang lahir prematur meninggal dalam perawatan di rumah sakit saat tidak kebagian ruang NICU. Ia mengalami penyempitan saluran napas sehingga buruh peralatan yang hanya tersedia di NICU.

Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Dien Emawati mengakui 134 NICU yang tersebat di beberapa rumah sakit di Jakarta memang dirasa kurang mencukupi. Diperkirakan, 1-3 persen kelahiran di Jakarta membutuhkan perawatan NCU sehingga jumlah unit tersebut perlu ditambah.

Terakhir, Menteri Negara BUMN Dahlan Iskhan curhat di media tentang pengalamannya mencoba teknologi 'cuci otak' temuan dr Terawan. Terapi kontroversial tersebut belum diakui oleh kalangan medis. Dikhawatirkan, kesaksian Dahlan mendorong pasien untuk beralih dari pengobatan standard yang lebih teruji secara ilmiah.

(up/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads