Tumor Langka di Tubuh Gadis Ini Hilang Berkat Radioterapi Baru

Tumor Langka di Tubuh Gadis Ini Hilang Berkat Radioterapi Baru

Rahma Lillahi Sativa - detikHealth
Selasa, 24 Des 2013 15:15 WIB
Tumor Langka di Tubuh Gadis Ini Hilang Berkat Radioterapi Baru
Lauren Foster (Foto: Daily Mail)
Jakarta - Emma Foster begitu terpukul ketika putrinya didiagnosis kanker. Tapi dua tahun kemudian, bocah bernama Lauren itu dinyatakan sembuh total. Ini tak lain berkat radioterapi baru yang dikembangkan di AS bernama proton-beam therapy.

Teknologi baru ini diklaim dapat membunuh sel-sel kanker seperti halnya radioterapi konvensional namun memanfaatkan pancaran proton, bukannya sinar X. Proton sendiri adalah partikel positif yang ditemukan di tengah atom yang dapat difokuskan menjadi pancaran cahaya dalam sebuah partikel akselerator yang disebut dengan 'cyclotron'.

Berbeda dengan sinar X, pancaran proton melepaskan energinya hanya ketika mencapai target sehingga kerusakan yang dialami jaringan di sekitarnya juga otomatis berkurang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Itu artinya efek samping jangka panjang dari terapi tersebut juga kecil. Tentu saja ini penting jika pasiennya adalah anak-anak. Salah satunya Lauren yang mengidap kanker jaringan langka yang disebut dengan Rhabdomyosarcoma. Bisa dikatakan ia adalah kandidat yang ideal untuk menjalani proton-beam therapy.

Kanker yang dialaminya itu tercatat terjadi pada 60 anak di UK setiap tahunnya dan dapat menyerang otot atau jaringan fibrosa di organ tubuh manapun. Pada kasus Lauren, tumornya terletak di belakang langit-langit mulutnya. Berarti operasi bukanlah opsi yang tepat. Tapi letak tumor yang berdekatan dengan mata dan hidungnya membuat akurasi proton-beam therapy menjadi sangat bermanfaat.

Selama ini National Health Services UK sebenarnya sudah menanggung biaya untuk para pasien kanker langka agar dapat menjalani terapi ini, tapi pasien diharuskan ke AS karena terapi ini hanya ada di negara adidaya tersebut.

"Sebenarnya saya tak pernah mendengar tentang terapi ini. Apalagi ketika dokter mengatakan ini hanya tersedia di Amerika, saya langsung kepikiran biayanya dan bagaimana kami bisa menanggungnya. Meski begitu dokter mengatakan jika tim dokter sepakat inilah opsi terbaik untuk Lauren, maka NHS akan membiayai semuanya," tutur Emma.

Setelah tim dokter sepakat, di bulan Maret 2012 Lauren terbang ke AS bersama kedua orang tuanya, Emma dan Stephen, serta adik perempuannya Holly. Lauren kemudian menjalani 28 sesi terapi selama 9 minggu. Namun terapi ini masih harus tandem dengan kemoterapi.

"Pengobatan ini adalah radioterapi yang mewah (mahal). Dan mungkin takkan bisa menyembuhkan setiap anak yang terkena kanker tapi terapi ini mengurangi efek samping jangka panjang dari radioterapi maupun munculnya kekambuhan di kemudian hari," tandas Dr Adrian Crellin, salah satu pelopor proton-beam therapy di UK.

Namun pada orang dewasa dengan kanker langka seperti sarkoma tengkorak dan tulang belakang, terapi proton ini dapat ditujukan langsung pada tumor dengan dosis yang tinggi tapi berpotensi besar untuk menyembuhkan banyak pasien.

Sayang setiap terapi proton sanggup menghabiskan biaya hingga 20 juta poundsterling (sekitar Rp 398.5 milyar) atau 10 kali lebih mahal daripada biaya akselerator linear yang digunakan dalam radioterapi konvensional. Sejak tahun 2008, NHS telah mengirim banyak pasien ke dua pusat proton-beam therapy di AS, yaitu di Oklahoma dan Florida, dengan biaya 97.500 poundsterling (sekitar Rp 1,9 miiyar) per pasien.

Beruntung pemerintah Inggris telah menggelontorkan dana sebesar 250 juta poundsterling (sekitar Rp 5 miliar) musim panas ini untuk membangun dua pusat terapi proton di Inggris yang rencananya akan dibuka pada tahun 2018. Dan ketika dua pusat terapi ini dibuka, biaya untuk setiap pasien hanyalah menjadi sekitar 40.000 poundsterling (sekitar Rp 797 juta) saja.

Pengobatan yang dijalani Lauren dimulai dengan tim bedah memasukkan semacam manik-manik kecil yang disebut dengan 'penanda fiducial' ke permukaan tengkorak remaja berusia 12 tahun ini. Ini akan terlihat di scan dan memudahkan radiografer untuk menargetkan pancaran protonnya tepat dimana tumor itu berada.

Sebuah masker nantinya diletakkan tepat di wajah Lauren untuk menjaga agar kepalanya tetap pada tempatnya untuk setiap sesi yang berlangsung selama 40 menit. Bahkan Lauren tetap bisa bertahan menjalani sesi tanpa diberi anestesi atau obat bius sama sekali.

"Ini agak menakutkan awalnya tapi lama-lama saya terbiasa. Di akhir sesi saya sering merasa tak enak badan hingga saya tak bisa merasakan emosi apapun," ingat Lauren seperti dilansir Daily Mail, Selasa (24/12/2013).

Efek sampingnya adalah pancaran proton tersebut 'membakar' bagian tubuh yang menjadi targetnya. Akibatnya tenggorokan Lauren meradang dua minggu kemudian hingga ia harus diberi makan lewat selang selama lima minggu terakhir.

"Tubuhnya begitu lemah. Bahkan minggu-minggu terakhir adalah saat terburuk dalam hidup saya. Kami terisolir dan di akhir pekan ketika Lauren mendapat jeda dari terapinya, kami hanya bisa duduk diam di kamar hotel dan menghitung waktu," kata Emma.

Dengan didirikannya dua pusat terapi proton baru di Inggris, yaitu di Christie Hospital Manchester dan UCL Hospital London maka pasien juga tak perlu jauh-jauh ke Amerika.

Namun karena prosedur ini hanya bisa diberikan pada sekian kecil penderita kanker langka, masih banyak pakar yang skeptis dengan keberhasilan terapi ini. Menurut Dr Crellin ini karena terapi proton masih berada pada tahapan yang sangat dini dan hanya ditujukan pada penderita kanker langka yang sangat spesifik.

Dan bagi keluarga Foster, terapi ini efektif bagi penyembuhan putri mereka. Musim panas lalu, hasil scan menunjukkan bahwa tumor di tubuh Lauren telah hilang. Tapi Lauren masih harus menjalani scan setiap enam minggu sekali. "Kami sudah sangat merasa istimewa bisa mendapatkan pengobatan terbaik," tegas Emma.



(vit/vit)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads